FKUB DKI Jakarta Menerima Kunjungan FKUB Kab. Karang Asem

Keterangan Foto, Ki-Ka, Gus Windu Kesbangpol Kab. Karang Asem, I Made Sugiarsa – Ketua FKUB Kab. Karang Asem, Ignatius Rudy Pratikno-Wakil Ketua FKUB DKI Jakarta dan H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris FKUB DKI Jakarta

FKUB JAKARTA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menerima kunjungan FKUB Kab. Karang Asem Provinsi Bali, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang – Jakarta Pusat, (19/7/2018).

Rombongan FKUB Kab. Karang Asem berjumlah Sembilan orang tiba di kantor FKUB Jakarta Pukul 11.00 dan diterima Wakil Ketua FKUB DKI Jakarta Ignatius Rudy Pratikno, H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB DKI Jakarta dan didampingi oleh Romo Antonius Suyadi, H. Aris  Banaji dan H. Qomarudin selaku anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta.

Dalam kesempatan itu  H. Taufiq menyampaikan permohonan maaf Ketua FKUB DKI Jakarta yang tidak bisa menemui rombongan FKUB Karang Asem dikarenakan ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, dan FKUB Provinsi DKI Jakarta tidak dapat menerima rombongan FKUB Kab. Karang Asem secara full tim dikarenakan ada kegiatan-kegiatan lain yang harus dihadiri oleh FKUB Jakarta.

“Kami lagi banyak kegiatan yang harus dihadiri, sehingga kami bagi-bagi tugas, ujar Taufiq Rahman”

Sementara itu Ketua FKUB Kab, Karang Asem I Made Sudiarsa, menyapaikan ucapan terima kasih atas sambutan pengurus FKUB DKI Jakarta sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan berkunjung ke FKUB DKI Jakarta.

Maksud dan tujuan FKUB Kab. Karang Asem berkunjung ke FKUB DKI Jakarta selain ingin bersilaturahmi antar FKUB, sekaligus kami ingin menggali informasi tentang kerukunan di Provinsi DKI Jakarta karena Provinsi DKI Jakarta kami jadikan refsensi kami dalam pemeliharaan Kerukunan Antar Umat Beragama, lanjut Made.

“Provinsi DKI Jakarta itu sangat komplek, dari yang paling baik samapai yang paling krusial ada di Jakarta”

Kami ingin belajar dari FKUB DKI Jakarta, mungkin ada program-program yang bisa kami kembangkan di Kab. Karang Asem, pungkas Made.(fkub/budi)

FKUB Jakarta Menggelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Kaum Dhuafa

(FKUB JAKARTA) Moment bulan Ramadahan tahun ini dimanfaatkan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta untuk berbagi dengan kaum dhuafa diwilayah RW.017 Kel. Kebun Melati – Kec. Tanah Abang dengan menggelar acara Buka Puasa Bersama dan Santunan Kaum Dhuafa bertempat di RPTRA Bonti Tanah Abang pada hari Kamis,(7/6/2018).

Kegiatan Buka Puasa Bersama kali ini selain memberikan santunan kepada kaum dhuafa, tetapi sebagai ajang silaturhami pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta dengan masyarakat sekitar,  Lurah Kel. Kebun Melati dan tokoh masyarakat, serta kegiatan ini dimanfaatkan untuk mensosialisasikan tugas pokok dan fungsi FKUB Provinsi DKI Jakarta kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Rudy Pratikno selaku wakil ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta mengatakan, semoga kegiatan ini mempererat hubungan FKUB DKI Jakarta dengan masyarakat dan tokoh masyarakat Kelurahan Kebun Melati.

Sematara itu Lurah Kelurahan Kebun Melati dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara Buka Puasa Bersama dan santunan kaum dhuafa serta berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun.

Selanjutnya Lurah Kebun melati menjelaskan bahwa, kami menjalankan seruan Gubernur DKI Jakarta untuk menjaga lingkungan selama bulan Romadhan, karena Kelurahan Kebun Melati sering terjadi Tawuran.

Lurah Kebun Melati juga mengajak kepada orang tua supaya menjaga anak-anaknya agar tidak sahur keliling karena dapat memicu tawuran.

Selanjutnya kegiatan Buka Puasa Bersama dilanjutkan dengan penjelasan tentang Tugas Pokok dan Pungsi FKUB DKI Jakarta serta ceramah agama yang disampaikan oleh H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB Jakarta.

Pada kesempatan itupula ada penyerahan tanaman secara simbolis dari FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Lurah Kebon Melati kepada pengurus RPTRA Bonti.

“Semoga tanaman ini dapat bermanfaat untuk RPTRA Bonti dan masyarakat sekitar, kalau sudah berbuah mudah-mudahan kita bisa menikmati”.

Kegiatan Buka Puasa Bersama ini dihadiri oleh pengurus FKUB DKI Jakarta, Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta, KEsbangpol DKI Jakarta, Lurah Kel. Kebun Melati dan staf, LMK RW.017 dan masyarakat sekitar yang berjumlah 130 orang, pada kesempatan itu FKUB memberikan santunan untuk 34 orang kaum dhuafa.(fkub/budi)

 

 

 

FKUB DKI Jakarta: ”Upaya membangun Kerukunan Tahun 2018-2019: masalah dan solusinya”

Ket. foto dari ki-ka ( Kakanwil Kemenag Jakarta- H. Syaiful Mujab, Ketua FKUB Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid, Taufan Bakri – Kesbangpol Jakarta dan Rudy Pratikno)

(FKUB JAKARTA) Jakarta, sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia, tentunya harus menjaga kewaspadaan, sebagai meltingpot, Jakarta harus menampilkan kerukunan hidup beragama dalam kehidupan bermasyarakat. Bila keanekaragaman dan perbedaan itu tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin justru akan menimbulkan konflik.

FKUB Provinsi DKI Jakarta memandang perlu upaya selalu membangun kerukunan antar umat beragama, terutama pada tahun 2018-2019 adalah tahun politik perlu lebih intens melakukan upaya membangun kerukunan, karena dengan kerukunan umat beragama akan tercipta ketentraman dan kenyamanan, dan saat kerukunan itu terwujud maka persatuan bangsa akan terwujud, jika persatuan itu terwujud, maka menambah keamanan dan kekuatan negara.

Sehubungan dengan hal tersebut, FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan dialog antar tokoh agama dan Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan dengan tema ”Upaya membangun Kerukunan Tahun 2018-2019: masalah dan solusinya” bertempat di Kantor FKUB Jakarta di Graha Mental Spiritual lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada hari senin 28/5/2018.

Kegiatan dialog diikuti oleh anggota FKUB DKI Jakarta, FKUB Kota se DKI Jakarta, para pimpinan dan utusan dari majelis agama antara lain: MUI Provinsi DKI Jakarta, PGIW Provinsi DKI Jakarta, Keuskupan Agung Jakarta, WALUBI Jakarta, MATAKIN Jakarta. Sebagai narasumber adalah Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta danKepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Povinsi DKI Jakarta.

Kegiatan dialog ini bertujuan menerima masukan dan saran dari para  tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan dan FKUB wilayah kota se DKI Jakarta dalam menghadapi situasi terkini dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Jakarta dan dalam rangka menyusun program kerja FKUB DKI Jakarta tahun 2019.(fkub/budi)

 

KH. Ahmad Syafii Mufid: “Kata Siapa Jakarta Tidak Toleransi”

KH. Ahmad Syafii Mufid- Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB JAKARTA) Kehidupan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta selama ini berlangsung  rukun, tanpa gangguan yang berarti. Warga kota Jakarta meskipun berbeda-beda agamanya, mampu hidup dengan rukun dan toleran.

Demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ahmad Syafi’i Mufid pada saat  menerima kunjungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Minahasa Selatan, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual, Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati-Tanah Abang- Jakarta Pusat (23/4/2018).

Syafi’i menjelaskan, bahwa fakta tersebut sekaligus membantah banyaknya informasi yang menyatakan bahwa toleransi umat beragama di DKI Jakarta jauh dari kata rukun. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta  paling rendah daripada provinsi lainnya,”

Syafii menambahkan, bahwa di Jakarta memilik potensi konfliknya sangat tinggi, akan tetapi konflik di Jakarta itu bukan konflik agama tetapi persoalannya spasial, itu sesuai dengan hasil penelitian antropolg dari Prancis yang bernama Jeremy Teddy, beliau katakan bahwa selama tiga tahun di Jakarta, Jakarta itu selalu terjadi konflik terkait spacial.

 “ Terjadinya tawuran-tawuran, koflik itu terjadi karena rebutan ruang, dari mulai kampung sana dengan kampung sini sampi dengan yang sekampung, dan itu terus mengejala sampai ke sekolah”.

Jakarta itu semenjak bernama Batavia, masyarakat di Jakarta  itu sudah bermacam-macam  agama, macam suku tetapi bisa rukun menjadi satu.

Menurut Syafii, selain masalah spasial, konflik di Jakarta itu timbul karena ada persoalan-persoalan politik. Contoh kasus tanjung Priok, kasus kuda tuli, kasus mei 1998.

“ Hal ini yang dikwatirkan, kasus seperti ini berkembang di Jakarta yang nyangkut – nyangkut agama”.

Kalau terkait dengan Pilkada memang itu ada suara miring, akan tetapi tidak terjadi apa-apa yang berarti disini, karena kita tidak melihat perbedaan agama, tidak melihat perbedaan suku, apalagi dominasi mayoritas terhadap minoritas, buat kami tidak berlaku.

Sedangkan yang terkait pendirian rumah ibadat, sesuai tupoksi FKUB DKI Jakarta yaitu mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian rumah ibadat di Provinsi DKI Jakarta, selama ini rumah ibadat yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari FKUB DKI Jakarta adalah rumah ibadat Kristen.

“Kalau melihat kondisi ini, apa yang kurang dari jakarta?, bagaimana bisa dikatakan masyarakat Jakarta jauh dari kata rukun dan toleransi”.

FKUB DKI Jakarta mengambangkan apa yang dinamakan kader-kader kerukunan melalui sekolah Agama-agama dan Bina Damai (SABDA). Seluruh agama kita libatkan, bahkan aliran kepercayaan, agama Baha’i, Ahmadiyah, dan aliran keras juga ikut, jadi bukan hanya agama yang mainstream saja yang kita libatkan, mereka kami ajak semua untuk berpikir bagaimana membangun Jakarta Aman- Jakarta Damai.

Saya teringat oleh Filosof besar yaitu Hans Kung beliau mengatakan tentang Global etik, didunia itu perlu adanya etika yang disepakti bersama.

“Dunia ini tidak akan damai kalau tidak ada dialog antar umat beragama, jadi dialog antar umat beragama itu menjadi kata kunci”.

Saat ini, FKUB DKI Jakarta sudah diajak menjadi bagian Global Peace Foundation untuk kampanye damai untuk seluruh dunia, tandas Syafii Mufid.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB Kab. Minahasa Selatan Belajar Kerukunan Antar Umat Beragama Ke Jakarta

Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka,

(FKUB-JAKARTA) FKUB Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta (23/4/2018).

Menurut Ketua FKUB Kab. Minahasa Minahasa Selatan-Pdt. Luky Tumbelaka, kunjungan kami ke FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam rangka ingin belajar kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola kerukunan antar umat beragama di Provinsi DKI Jakarta.

“Jakarta adalah sebagai barometer nasional dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kerukunan antar umat beragama”

Berbagai kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu dan begitu cepat berubah sehingga itu yang membuat kami tertarik untuk berkunjung ke Jakarta, lanjutnya.

Selanjutnya Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan – Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka menambahkan, selain masalah isu kerukunan umat beragama kami ingin belajar banyak mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan secara serentak, dan FKUB DKI Jakarta memiliki pengalaman masalah itu.

“FKUB Jakarta sukses dalam menghadapi Pilgub tahun 2017 sehingga tidak terjadi konflik yang sehingga Pilgub Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan lancar, aman dan damai” tandasnya.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Melakukan Kunjungan Verifikasi Lapangan Masjid Al Hamra

(FKUB-Jakarta ) Pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan verifikasi lapangan ke lokasi pembangunan masjid Al Hamra yang beralamat: Jl. Mundu No.19 Rt.002/18  Kel. Legoa – Koja- Jakarta Utara (10/4).

Kegiatan Kunjungan kelokasi pembangunan  merupakan rangkaian yang terakhir dalam proses mendapatkan IMB untk mendirikan atau merenovasi rumah ibadah. Selain melihat lokasi pembangunan masjid Al Hamra kehadiran pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta ke lokasi pembangunan adalah untuk mendengarkan testimoni tidak keberatan atas rencana dibangunnya rumah ibadah masjid Al Hamra dari masyarakat sekitar pembangunan, tokoh pemerintahan setempat, RT, RW, Lurah camat, Babinsa, Koramil dan dari Majelis Ulama Indonesia Kota Jakarta Utara.

Kunjungan ini untuk memastikan bahwa masyarakat sekitar tidak merasa keberatan atas rencana dibangunnya masjid Al Hamra, Jangan sampai ada peramsalahan dibelakang hari, rumah ibadah sudah dibangun tapi ada warga yang keberantan dengan dibangunnya masjid Al Hamra”

“Kunjungi ini merupakan rangkaian pelaksanaan peraturan bersama menteri no. 8 dan 9 tahun 2006”.

Pada tahun 2018 ini FKUB Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat rekomendasi pembangunan rumah ibadah antara lain: Gereja Bethel Indonesia Ecclesia di Jakarta Barat, Gereja Advent Masehi Hari Ketujuh di Jakarta Timur, VIhara Avalokitesvara Vipassana Graha di Jakarta Utara, Masjid Al Fallah di jakarta Timur dan Masjid Al Hamra adalah rumah ibadah yang kelima yang akan diberikan rekomendasi.

Kunjungan  FKUB Provinsi DKI Jakarta meninjau lokasi pembangunan Masjid Al Hamra dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Sayfii Mufid.

Sedangkan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta yang turut hadir mendampingi Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta antara lain, Drs. Rudy Pratikno, SH., H. Syarief Tanudjaja-Wakil Ketua, H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris, Pdt. Manuel E. Raintung – Wakil Sekretaris, H. Aris Banaji, H. Ahmad Astamar, H, Tri Gunawan Hadi, H. Qomarudin, Romo Antonius Suyadi, Pr – Anggota FKUB DKI Jakarta.(budi/fkub)

Perjalanan Capacity Building FKUB Provinsi DKI Jakarta

Drs. Dedy Sosialisto-Plt. Kepala Bidang KEsatuan bangsa Kota surabaya dan KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-JAKARTA) Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke Provinsi Jawa Timur dalam rangka Capacity Building guna meningkatkan kapasitas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta, kunjungan dilaksanakan selama empat hari mulai dari tanggal, 19-22 Maret 2018.

Pilihan sasaran perjalanan ke daerah Jawa Timur sangat penting untuk capacity building dalam rangka bina damai. Bagi FKUB DKI Jakarta, kunjungan ke luar negeri maupun dalam negeri bahkan di dalam kota Jakarta adalah untuk tujuan besar, kerukunan atau bina damai. Mandat yang diemban oleh FKUB Provinsi DKI Jakarta mengharuskan semua untuk terus menerus meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memahami dinamika kemanusiaan, sosial, keagamaan dan kebangsaan.

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam perjalanan ini. Hari Pertama, FKUB Provinsi DKI Jakarta berkunjung ke kota Surabaya untuk bertemu dan berdialog dengan mitra, FKUB kota Surabaya dan FKUB Provinsi Jawa Timur. Semula, pada pertemuan dengan FKUB Kota Surabaya, rombongan dapat bertemu dengan Walikota Surabaya, tetapi karena ada tamu dari Liverpool, FKUB DKI hanya bertemu dengah PLT. Kepala Badankesbangpol serta pimpinan FKUB setempat. Isu yang dibicarakan adalah seputar bina damai yang terkait dengan pembangunan dan penataan kota tanpa penggusuran, kesejahteraan sosial terutama untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PSK) yang melibatkan peran ormas, yakni Muhammadiyah di wilayah Dupak.

Selanjutnya FKUB Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan ke kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur, berdialog dengan FKUB Provinsi Jawa. Rombongan FKUB DKI Jakarta diterima oleh Sekretaris kesbang, dewan penasihat dan pimpinan serta anggota FKUB Jawa Timur.

Foto bersama pengurus FKUB DKI Jakarta dan Pengurus FKUB Provinsi Jawa Timur

Provinsi Jawa Timur memiliki residu konflik sosial keagamaan terkait kasus Sampang, yang melibatkan komunitas Syiah dan masyarakat setempat. Problem berkepanjangan. Sudah satu windu kejadian, korban pengungsi belum mau kembali, dan korban masyarakat belum mau menerima kembali mereka. Penerintah daerah harus mengeluarkan dana besar untuk menjamin kehidupan para pengungsi. Tentu sangat nembebani pikiran dan sumber daya pemerintah daerah. Namun, pemerintah menurut Kesbangpol Provinsi Jawa Timur tetap dalam semboyannya “Pemerintah itu tugasnya Ngayomi dan Ngayemi”. Artinya pemerintah harus melindungi rakyat dan membuat tenang masyarakatnya. Mengakhiri kunjungan di Surabaya, peserta city tour ke jembatan Suromadu, tol yang menghububgkan kota Surabaya dengan Bangkalan Madura. Semestinya, setelah itu akan ziarah ke makam Sunan Ampel dan mengamati kehidupan masy multikultural di wilayah tersebut, tetapi karena ada anggota yang sakit, rombongan langsung pulang ke penginapan dan mengurus teman yang perlu dirawat.

Lesson learn dari Surabaya adalah, kehidupan multikultural masyarakat telah berlangsung lama, sejak abad 14 hingga sekarang. Mereka saling mengenal, saling menghormati dan bekerjasama, atau toleransi. Cukup sudah pembelajaran tentang bina damai digali dari khasanah budaya kita sendiri.

Pelajaran berharga lainnya, yang juga dapat dijadikan bukti bahwa kerukunan umat beragama di wilayah Jawa Timur. Pada abad 19 di Ngoro dan Mojowarno telah tumbuh komunitas Kristen pertama bagi masyarakat Jawa. Komunitas ini membangun jemaat Gereja
Kegiatan hari Hari Kedua, dilanjutkan kunjungan ke Trowulan, disini rombongan mendapatkan pelajaran di mana situs kerajaan Majapahit pernah menjadi negara besar abad 14 – 15. Negara ini hilang ditelan oleh sejarah karena pertikaian atau konflik politik yang berkepanjangan. Majapahit meninggalan pesan dan pelajaran yang sangat luar biasa bagi bangsa ini dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”  meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan Majapahit yang terkenal itu telah diterima oleh bangsa Infonesia sebagai salah satu kesepakatan nasional.
Rombongan FKUB DKI Jakarta menyempatkan mengunjungi Patung Buddha Tidur (Sleeping Buddha) ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di tengah perkampungan yang dekat dengan desa persawahan, sehingga menjadikan suasana disana menjadi tenang dan sejuk khas pedesaan. Tempat ini sering mendapat kunjungan wisatawan, baik untuk beribadah maupun rombongan non-Buddhis, terutama hari libur sekolah yang banyak dikunjungi oleh para pelajar. Pihak pengelola vihara cukup terbuka menerima kedatangan rombongan dan akan memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan keberadaan tempat ini.
Selanjutnya rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan kunjungan ke Gereja Kristen Jawi Wetan yang beralamat di Jl.Merdeka No.2, Mojowangi, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61475. Gereja Kristen Jawi Wetan pertama kali dideklarasikan pada tanggal 11 Desember 1936 di salah satu Jemaat Kristen Jawa terkemuka saat itu. Setelah itu, rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalannya dan menyempatkan berjiarah ke makam Gus Dur Presiden Republik Indonesia Ke-4. Kegiatan FKUB DKI Jakarta pada hari kedua berakhir di Pondok Pesantren Wali Barokah, sebuah pesantren untuk mendidik mubaligh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Tokoh litas agama yang ikut rombongan ini menjadi tahu apa itu pesantrenm apa itu LDII dan bagaimana relasi sosial serta perananny dalam bina damai di wilayah Kediri. Di Kediri, LDII berhasil menjadi salah satu penggerak kerukunan dan kedamaian. Buktinyam FKUB DKI Jakarta diterima oleh pimpinan pesantren KH.Sunarto didampingi oleh tokoh-tokoh lintas agama dan bahkan tokoh penghayat kepercayaan.
Kegiatan hari Hari Ketiga, Rombongan FKUB DKI Jakarta melanjutkan perjalanan menuju ke Kota malang dan menyempatkan mampir ke makam Bung Karno Presiden Pertama Republik Indonesia.
Kegiatan hari Hari Keempat, rombongan FKUB DKI Jakarta berkunjung ke Keuskupan Malang, kegiatan kunjungan diisi dengan berdialog dengan Uskup Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm dan tokoh lintas Iman Kota Malang.(fkub/budi)

KH. Syafii Mufid: “Halal Bihalal itu Budaya Indonesia”

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB Jakarta) Halal bihalal, dan silaturrahmi merupakan ritual yang sangat baik untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ritual beragama, itu mampu memperkokoh kerukunan kehidupan berbangsa dan kerukunan antar umat beragama.

Silaturrahim dan halal bihalal juga menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan anti konflik. Ritual keagamaan itu menandakan antara Islam dan Indonesia sudah menyatu dan saling mendukung.

Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Alumni Sekolah Agama-Agama Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan acara Halal Bihalal di Kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta (27/7/2017).

Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara alumni-alumni SABDA angkatan pertama sampai dengan angkatan kelima dengan para pengurus FKUB DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta -KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan paparan tentang nilai Filosofi Halal Bihalal.

Menurut beliau, pada saat menuntut ilmu di Belanda, mengamati di negara manapun Turki, Arab, Inggris dan Negara lainya tidak pernah ada budaya Halal Bihalal. Yang ada Budaya Halal Bihalal itu hanya di Indonesia. Dan budaya toleransi dan halal bihalal sudah dipraktekkan oleh kakek moyang kita bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala.

“Halal Bihalal itu asli budaya bangsa Indonesia, dan merupakan budaya toleransi”

Syafii Mufid menambahkan, yang menjadi simbolik halal bihalal adalah Ketupat dan Lepet. Ketupat yang mengandung filosofi mengakui kesalahan, dan Lepet mengandung filosofi saling melekat manjadi rukun.

Halal Bihalal mempunyai makna integratif dalam masyarakat maupun bangsa dan negara. Jadi intinya Halal Bihalal merupakan wadah yang pas untuk Bina Damai.

Perdamaian Abadi mungkinkah diwujudkan di dunia ini? Perdamaian di mulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kedepannya agama akan lebih penting lagi diperlukan untuk mewujudkan Perdamaian Dunia dibanding senjata. Tetapi pertanyaannya adalah Agama yang seperti apa? Agama yang menjunjung tinggi akhlak nur Karimah, pungkasnya.

Kegiatan Halal Bihalal ini dihadiri oleh Kesbangpol DKI Jakarta, Dit. Intelkam Polda Metro Jaya, Pengurus FKUB DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Alumni Sabda, jumlah peserta yang hadir kurang lebih seratus orang.(budi/fkub)

Lokakarya Mediasi dan Resolusi Konflik

(FKUB Jakarta) PUSAD Paramadina menyelenggarakan lokakarya “Mediasi dan Resolusi Konflik Keagamaan” dengan melibatkan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama yang ada di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan dan Kab. Gunung Kidul bertempat di Villa Renata – Cipanas, selama empat hari dari tanggal 24 sampai dengan 27 Juli 2017.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman memediasi konflik, meningkatkan kemampuan dalam mediasi serta resolusi konflik, dan melembagakan mediasi dan resolusi konflik di FKUB

PUSAD Paramadina menemukan salah satu masalah krusial dihadapi FKUB dalam menjalankan fungsinya yaitu kemampuan memediasi konflik. Oleh sebab itu, PUSAD Paramadina mengadakan pelatihan mediasi konflik keagamaan bagi anggota FKUB.

Kegiatan lokakarya ini diselengara oleh PUSAD Paramadina bekerjasama dengan FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada (MPRK) Jogjakarta, diikuti oleh utusan dari FKUB Provinsi DKI Jakarta empat orang, utusan FKUB Wilayah Jakarta Utara enam orang, FKUB Kota Tangerang Selatan enam orang dan FKUB Kab. Gunung Kidul- Yogyakarta sebanyak enam orang.

Lokakarya yang berlangsung selama Empat hari itu diisi dengan materi-materi : Pertama, Agama dan Bina Damai, Kedua, Peluang dan Tantangan Resolusi Konflik, Ketiga, Pelembagaan Mediasi Konflik Keagamaan, Keempat, Komunikasi efektif, Kelima, Praktik Mediasi dan Resolusi Konflik, Keenam, Mediasi dan Resolusi Konflik: Pengalaman FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Ketujuh, Rencana Tindak Lanjut.

Sebagai narasumber antara lain: Ihsan Ali Fauzi – Direktur PUSAD Paramadina, KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Rizal Pangabean dan Titik Firawati dari Universitas Gadjah Mada.(budi/fkub)

Ka.Kesbangpol, H. Darwis Adji:”Semata-mata tugas Kesbangpol itu Untuk Menjadikan Kota Jakarta Aman”

Darwis(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Povinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama  2017 di Gedung ESGP, Jl.Wika No.17 Rt.04/06 Srengseng Sawah – Jagakarsa- Jakarta Selatan, Kamis 4/5/2017.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 kali ini merupakan angkatan ketiga, yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis yang ada di wilayah kecamatan Jagakarsa, serta membangun sikap beragama dan sikap toleransi antar umat agama sehigga dapat terciptanya kerukunan antar umat beragama diwilayah Jagakarsa.

Pada kesempatan itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta – H. Darwis M. Adji, M.Si berkesmpatan memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya Darwis Adji menjelaskan tentang tugas dan fungsi Kesbangpol Provinsi DkI Jakarta, Pertama: Menyatukan masyarakat yang ada di Provinsi DKI Jakarta yang beda agama, Etnik, budaya dan pilihan politik, Kedua: Sesuai Undang-undang no.17 thn 2014 kepala Kesbangpol merangkap sebagai sekretaris komunitas intelijen daerah, dan yang Ketiga: Kepala Kesbangpol merangkap sebagai kepala secretariat forum pimpinan daerah, dan Ka.Kesbangpol juga sebagai Pembina Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta.

“Semata-mata tugas Kesbangpol itu untuk menjadikan Kota Jakarta aman,  dengan menajaga ketertiban masyarakat, menjaga toleransi antar umat beragama dan suku yang ada di Jakarta”

Darwis menambahkan, tercatat di Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta ada 37 suku dari seluruh Indonesia yang tinggal di Jakarta dan secara umum dapat hidup berdampingan dan rukun damai.

Selanjutnya Ka.Kesbangpol mengajak kepada seluruh peserta dan seluruh warga Jakarta untuk kembali bersatu, tidak ada lagi dukung mendukung pasca Pilkada Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta 2017.

Tidak ada lagi di Gereja kutbah yang mendukung salah satu paslon, tidak adalagi ceramah di masjid yang mengatakan jangan memilih pemimpin kafir, jadi mari kita sekarang rukun dan bersatu, pungkasnya.

Kegiatan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017 angkatan Ketiga ini terselenggara atas kerjasama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Alumni Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai (SABDA) FKUB Provinsi DKI Jakarta, dan peserta yang hadir pada saat itu berjumlah 75 orang dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak keamanan wilayah kecamatan Jagakarsa.

Adapun yang menjadi narasumber: H. Ahmad Astamar dari FKUB Provinsi DKI Jakarta, AKBP Jajang Hasan Basri dari Polda Metro Jaya dan Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dan yang menjadi moderator H. Edy Supriyadi, S,Kom., MM alumni SABDA.(fkub/budi)

1 2 3 8