Menteri Agama-Lukman Hakim Saefudin: “Menurut Pemerintah Hari Raya Imlek Sebagai Hari Raya Agama”

H. Lukman Hakim Saefuddin – Menteri Agama Republik Indonesia

(FKUB JAKARTA) Menteri Agama Republik Indonesia-Lukman Hakim Saifuddin memandang Hari Raya Imlek merupakan hari raya keagamaan bagi umat Khonghucu, hal tersebut disampaikan pada saat berpidato dalam acara Tahun Baru Imlek nasional 2570 yang mengusung tema “Penimbunan Kekayaan Akan Menimbulkan Perpecahan Diantara Rakyat, Tersebarnya Kekayaan Akan Menyatukan Rakyat yang digelar di Gedung Theater Garuda TMII, Jakarta-Minggu (10/02).

Lukman Hakim dalam pidatonya mengatakan, setidak tidaknya di kementerian agama karena selaku menteri agama setiap tahunnya menetapkan hari libur nasional, dan Imlek dalam Prespektif kementerian agama yang juga hakekatnya menurut pemerintah itu adalah Hari Raya Agama.

“Kami setiap tahunnya menetapkan hari libur nasional, dan Imlek dalam Prespektif kementerian agama yang juga hakekatnya menurut pemerintah itu adalah Hari Raya Agama”.

Karena hari hari libur nasioanal selain hari libur yang sifatnya nasional itu semua terkait dengan agama, seperti di Islam ada perayaan maulid Nabi, Isra Mi’raj, di Kristen ada Natal, Paskah, di Hindu ada Hari Raya Nyepi, di Buddha ada hari raya Waisak dan bagi umat Khonghucu ada Hari Raya Imlek, meskipun tentu kita harus tetap menghormati, menghargai sebagian saudara saudara kita yang memiliki cara pandang berbeda dalam hal ini, imbuhnya

Menag Lukman tidak lupa mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek kepada umat Khonghucu di Indonesia.

“Saya merasa bersyukur bisa hadir di perayaan Imlek ini. Tahun Baru Imlek adalah perayaan agama yang memiliki makna spesial bagi umat Khonghucu,” ujar Menag.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada umat khonghucu yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia,”

Melalui tahun baru Imlek 2019, Menag berharap dan optimis bahwa umat Khonghucu dapat memberikan contoh memoderasi beragama, pungkasnya.

Perayaan tahun baru Imlek ini merupakan kali ke 20 digelar MATAKIN, dihadiri oleh ribuan umat Khonghucu dan tampak hadir Ketua Kehormatan MATAKIN Jimly Asshiddiqie, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta – Dr. H. Saeful Mujab, Kapus Khonghucu, Mejelis-Mejelis Agama, Ketua Umum Kowani, Ketum INTI Teddy Sugianto, Jaya Suparna, Izmi Abubakar, Ketum MATAKIN  Xs Budi Santoso bersama jajarannya serta para tokoh lintas agama. (fkub/budi)

Js. Liem Liliany Lontoh: “Tahun Baru Imlek Merupakan Hari Keagamaan”

Js. Liem Liliany Lontoh – Ketua MATAKIN Provinsi DKI Jakarta memimpin Ibadah

(FKUB JAKARTA) Warga Jakarta keturunan Thionghoa  merayakan Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili di Kongmiao – Taman Mini Indonesia Indah yang jatuh pada tanggal 5/2/2019.

Pada kesempatan itu kami mewawancari Js. Liem Liliany Lontoh, S.E., M.Ag selaku Ketua Matakin Provinsi DKI Jakarta setelah beliau memimpin acara peribadatan.

Tahun baru Imlek Merupakan Hari Keagamaan

Menurut Liliany, Tahun Baru Imlek merupakan Hari Raya yang sangat sakral, karena sarat dengan nilai keagamaan. Tahun Baru bukan hanya sekedar memakai baju baru, makan-makan  dan bersenang-senang melainkan saatnya untuk memperbaharui diri agar lebih baik dari tahun sebelumnya.

Liliany mengutip dari Kitab Thai Hak (Ajaran Besar Bab II:1 tertulis, Pada tempayan Raja Thong terukir kalimat, “Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya!”

Ketika ditanya,  bagaimana dengan sebagian kalangan Tionghoa yang menyatakan bahwa Tahun Baru Imlek adalah merupakan hari raya kebudayaan, Liliany menjawab bahwa Imlek menurutnya adalah Hari Raya Keagamaan.

“Pemerintah meliburkan secara Nasional hanya untuk Hari libur agama dan hari libur Nasional. Terlalu istimewa apabila hari kebudayaan Tionghoa sampai diliburkan, bagaimana dengan kebudayaan yang lain?”

Liliany yang juga pengurus FKUB Kota Jakarta Barat menambahkan, perhitungan Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili dipakai untuk menghormati Nabi Kongzi yang menyarankan digunakannya kembali penanggalan Dinasti Xia. Perhitungan tahun Kongzili pun dimulai pada tahun kelahiran Nabi Kongzi yaitu tahun 551 sebelum Masehi. Untuk tahun ini perhitungannya (551 + 2019 = 2570), dan sejak penetapan itu penanggalan imlek yang digunakan tidak berubah sampai sekarang.

Peribadatan Tahun Baru Imlek

Menyambut tahun baru Kongzili, umat Konghucu melakukan serangkaian ritual dimulai dari Ji Si Siang Ang atau  Hari Persaudaraan seminggu menjelang Imlek, dimana saatnya berbagi kasih kepada saudara saudara yang kurang mampu. Saudara disini bukan hanya umat sendiri tetapi juga peka terhadap lingkungan sekeliling. Selanjutnya sehari sebelum Imlek umat Khonghucu melaksanakan sembahyang leluhur, menjelang tengah malam pada hari terakhir sebelum Imlek umat Khonghucu wajib bersembahyang untuk mengucapkan syukur atas semua berkah yang telah Tian (Tuhan) berikan sepanjang tahun ini.

Setelah itu, dilaksanakan ibadah peringatan tahun baru tanggal 1 bulan 1 Kongzili dan umat Khonghucu saling mengucapkan selamat, memberi hormat, serta mendoakan kesehatan,kebahagiaan, kesejahteraan dan segala perkara kiranya dapat terselesaikan dengan baik, lancar dan sukses. Selanjutnya sembahyang King Thi Kong dilaksanakan  ada tanggal delapan bulan kesatu Kongzili, tepatnya saat Zi Shi atau pada pukul 11  malam sampai 1 dini hari.

Lalu pada tanggal 15 bulan kesatu Kongzili dilakukan sembahyang Sang Yuan kepada Bumi sebagai awal musim tanam. Pada saat ini bertepatan dengan sembahyang Shiwu atau tanggal 15 juga disebut sembahyang Yuanxiao atau di Indonesia dikenal juga Cap Go Meh sebagai peringatan malam purnama pertama di tahun baru.

Demikianlah seluruh rangkaian ibadah dan perayaan Tahun Baru Kongzili yang merupakan hari besar pertama dari seluruh rangkaian ibadah sepanjang tahun yang dirayakan umat Khonghucu di seluruh dunia.

Harapan di Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili

Liliany berharap, Tahun Baru Imlek kali ini yang merupakan Shio Babi Tanah, semoga Kota Jakarta tetap rukun, aman, damai, dan Maju Kotanya Bahagia Warganya, dikarenakan Kota Jakarta sebagai barometer Indonesia. Serta di tahun politik ini, semoga Indonesia bisa memilih pemimpin bangsa yang mampu mengemban aspirasi rakyat, terutama dalam hal toleransi dan pluralisme.

Semoga momentum untuk memperbaharui diri ini dapat kita manfaatkan secara optimal untuk introspeksi diri, memperbanyak sujud syukur ke Hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa, saling tepasalira terhadap sesama, dan memperbanyak amal-ibadah kita, pungkasnya.

Atas nama pribadi, keluarga dan  MATAKIN Provinsi DKI Jakarta, saya menyampaikan:

“Selamat Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili. Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi”, kepada seluruh umat  Khonghucu dan semua yang merayakannya“.

Kegiatan Tahun baru Imlek ini dihadiri oleh Rohaniwan, Pengurus dan umat Khonghucu di Provinsi DKI Jakarta, juga hadir mbak Imesh dari Komunitas Bhinneka bersama ibu dan kedua anaknya.(fkub/budi)

FKUB Jakarta Menerima Panitia Pembangunan GKI Tubagus Angke

FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta menerima kunjungan panita pembangunan Gereja Kristen Indonesia Tubagus Angke, pada hari kamis, 10 Januari 2019 bertempat dikantor FKUB DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual Lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, tanah Abang Jakarta Pusat.

Rombongan Panitia pembangunan GKI Tubagus Angke dipimpin oleh Pendeta Mulia dan didampingi oleh dua orang Pinatua.

Kunjugan panitia pembangunan GKI Tubagus Angke untuk melakukan presentasi rencana renovasi pembangunan GKI Tubagus Angke, dalam rangka untuk mendapatkan rekomendasi tertulis dari FKUB Provinsi DKI Jakarta.

“Melalui paparan singkat ini kami sangat berharap pemerintah dki melalui FKUB Propinsi DKI Jakarta dapat membantu terwujudnya perizinan rumah ibadah bagi jemaat kami sesuai dengan ketentuan yang berlaku”. 

Pdt. Mulia menjelaskan, bahwa di tahun 1960 Jemaat GKI Tubagus Angke beribadah semula menggunakan rumah tinggal salah satu jemaat yaitu Alm.Djiauw H Kong yang terletak di Jl. Daan Mogot No.30 . Namun pada tahun 1980, Gereja harus memilih tempat yang baru mengingat tempat semula berstatus sebagai tempat tinggal keluarga alm. Djiauw H Kong, lokasi tersebut terletak di Jl. P. Tubagus Angke, Komplek Perumahan BNI 46, Blok GG No 40 dipergunakan samapai sekarang.

Pdt. Mulia menambahkan, secara keseluruhan jumlah anggota Jemaat sekarang ini berkisar diangka 350 orang anggota dari yang sebelumnya berkisar dari 700 an warga gereja, berkurangnya tersebut dikarenakan kematian, perpindahan dan sebab lain.

Pada hakekatnya GKI Tubagus Angke dalam pembinaan dan pelayanan bersifat berjenjang (kategorial) dimulai, Anak, Remaja, Pemuda, Umum Dewasa sertaUsia Lanjut.

Hubungan sosial kemasyarakatan

Sebagai Gereja yang bersaksi dan melayani, pelayanan GKI Tubagus Angke tidak hanya bersifat internal, tapi juga eksternal.  GKI Tubagus Angke melakukan pelayanan social baik kepada warga Jemaat mau pun diluar Jemaat yaitu  masyarakat sekitar gereja berupa pelayanan kesehatan gratis, pembagian sembako murah, bazar murah, fogging, buka puasa bersama, dan lain-lain dan GKI Tubagus Angke juga menjalin komunikasi dan kerjasama pelayan dengan salah satu tempat ibadah yang beragama Islam dan Budha yang berdekatan dengan tempat dimana kami beribadah.

Kunjungan panitia pembangunan GKI Tubagus Angke diterima langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta –KH. Ahmad Syafii Mufid dan disampingi oleh H. Elishmas iljas serta H. Qomarudin.

Pada kesemaptan itu, Ketua FKUB DKI Jakarta memberikan penjelasan bahwa FKUB DKI Jakarta mendapat mandate dari PBM nomor 8 dan 9 tahun 2006, dan peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor: 170 tahun 2009 tentang pendirian rumah ibadat.

‘Ketika ada yayasan, lembaga, perkumpulan atau organisasi mau mendirikan rumah ibadat itu arus memenuhi persyaratan-persyaratan yang terkait dengan FKUB  itu persyaratan khusus dan menajdi tanggung jawab FKUB”.

Sesuai PBM nomor: 8 dan 9 tahun 2006, pasal 14 (2) Selain memenuhi persyaratan admistratif dan persyaratan teknis pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan khusus meliputi : Pertama, daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah, Kedua,  mendapat dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa, Ketiga, mendapat rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota; dan Keempat, mendapat rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota.

Ahmad Syafii menambahkan, pendirian rumah ibadat harus tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan.

“Sehingga apabila dengan terpenuhi persyaratan-persyaratan tersebut tidak akan adanya penolakan dari warga”tandas Ahmad Syafii. (fkub/budi)

 

FKUB DKI Jakarta Mendapat Penghargaan Sebagai FKUB Provinsi Berkinerja Terbaik

(FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta mendapatkan Harmony Award Tahun 2018 sebagai FKUB Provinsi dengan Kinerja Terbaik.

Pemberian penghargaan Harmony Award 2018 diberikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kepada Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta KH. Ahmad Syafii Mufid, pada saat penyelenggaraan Upacara Hari Amal Bakti Ke-73 Kementerian Agama RI di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Penghargaan Harmoni Award Kerukunan Umat Beragama diberikan kepada Enam Kepala Daerah dan Enam pimpinan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai apresiasi atas sumbangsih dan kontribusi mereka dalam pembangunan kehidupan dan kerukunan umat beragama.

Dalam sambutannya Menteri Agama menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepada Pemerintah Provinsi dan Kota/Kabupaten serta kepada semua instansi terkait.

“Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, serta kepada semua instansi terkait, atas dukungan dan kerjasama lintas sektoral dalam pembangunan kehidupan beragama selama ini, semoga kerjasama dan kebersamaan itu dapat semakin ditingkatkan di masa-masa mendatang.

Penghargaan Harmony Award 2018 diberikan kepada, Pertama, Katagory Pemerintah Provinsi: Provinsi Kalimantan Utara, Provinsi Sulawesi Barat dan Provinsi Kalimantan Timur.

Kedua, Pemerintah Kabupaten/Kota: Kabupaten Bulungan; Kota Ambon; Kota Yogyakarta.

Ketiga, Katagori FKUB Provinsi berkinerja terbaik, FKUB Provinsi Aceh; FKUB Provinsi DKI Jakarta; FKUB Provinsi Kalimantan Barat.

Keempat, FKUB Kabupaten/Kota berkinerja terbaik, FKUB Kota Bekasi; FKUB Kabupaten Gunung Kidul; FKUB Kabupaten Tasikmalaya.(fkub/budi)

Sumber Berita: website. Kementarian Agam Republik Indonesia

https://kemenag.go.id/berita/read/509723/hab-73–menteri-agama-berikan-harmony-award-2019

FKUB Jakarta Menerima Kunjungan Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor

(FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta menerima kunjungan dari mahasiswa semester akhir Fakultas Ushuluddin-Universitas Darussalam Gontor, dikantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual Lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang – Jakarta Pusat (6/12/18).

Kunjungan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin ke FKUB Jakarta dalam rangka Studi Pengayaan Lapangan untuk pengembangan wacana keilmuan, penambahan wawasan dan penguatan ukhwah.

Rombongan mahasiswa Fakultas Ushuluddin berjumlah dua puluh orang yang terdiri dari delapan belas orang mahasiswa dan dua orang dosen pembimbing, dan diterima langsung oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta-KH. Ahmad Syafii Mufid dan didampingi oleh Rudy Pratikno, Syarif Tanudjaja, H. Elishman Iljas, Pdt. Liem Wira Wijaya, Pdt. Manuel E Raintung, Romo Antonius Suyadi, H. Ahmad Astamar dan H. Qomarudin.

Dalam kunjungan ke FKUB Provinsi DKI Jakarta, mahasiswa Fakultas Ushuluddin membahas tentang Eksklusifitas, Inklusifitas dan Pluralisme Agama, dan pada kesempatan itu banyak melakukan diskusi dan tanya jawab.(fkub/budi)

Kabinda: “FKUB Sangat diperlukan di Jakarta”

Kabinda Provinsi DKI Jakarta – Brigjend TNI Neno Hamriyono

FKUB JAKARTA) Kepala Binda Provinsi DKI Jakarta -Brigjen. TNI- Neno Hamriyono mengatakan: FKUB Provinsi DKI Jakarta ini sudah bagus, program-programnya sudah benar, jadi menurut saya FKUB Provinsi yang di pimpin oleh KH. Syafii Mufid harus di pertahankan, tinggal nanti legal formalnya kita usulkan ke Gubernur DKI Jakarta melalui Kesbangpol DKI Jakarta.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan masukan dan saran untuk FKUB Provinsi DKI Jakarta pada acara Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Dan Kebijakan Terkait Dengan Kerukunan Serta Pemberdayaan Kerukunan Bina Damai dengan tema ““Pentingnya Pendekatan Bina Damai dalam menjaga Persatuan Nasional” bertempat di Hotel Morrissey, Jl. KH. Wahid Hasim No.70 – Jakarta Pusat (16/10/18).

“Pak ridwan tolong sampaikan kepada Kesbangpol menurut Kabinda supaya FKUB Provinsi dilanjutkan saja, dengan catatan kalau pak Kyai tidak keberatan”.

Provinsi DKI Jakarta merupakan kota yang multi kultural, yang  sebagian besar orang-orang yang datang ke Jakarta ini membawa identitasnya masing-masing, disitulah sumber keragaman. Sumber keragaman ini perlu diselaraskan, perlu disatukan, salah satu organisasi yang bisa menselarakan adalah FKUB.

Organisasi seperti FKUB ini yang kita perlukan, khususnya di Jakarta dan Indonesia untuk mempererat lagi kerukunan hidup berbangsa dan beragama diwilayah Provinsi DKI Jakarta.

Penyerahan Cinderamata oleh Ketua FKUB Provinsi KH. Ahmad Syafii Mufid kepada Kabind – Brigjend Neno Hamriyono

Saya setuju sekali apabila FKUB ini terus berkiprah sampai tingkat International, dan menurut saya untuk periode berikutnya pak KH. Ahmad Syafii Mufid untuk memimpin FKUB ini, imbuhnya.

Neno  menambahkan, Saya menilia positif keberadaan FKUB di Jakarta ini, selama menjabat Kabinda selama Dua tahun ini saya menilai positif, dan FKUB paling sering kami undang untuk berdiskusi terkait keamanan Jakarta, pungkasnya.

Kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Dan Kebijakan Terkait Dengan Kerukunan Serta Pemberdayaan Kerukunan Bina Damai dihadiri oleh: Kabinda Provinsi DKI Jakarta, Utusan Kodam Jaya, Utusan Komando Armada Angkatan Laut, Polda Metro Jaya, utusan Kejaksaan Tinggi, Ketua Bawaslu Provinsi DKI Jakarta, Kesbanpol DKI Jakarta, Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Biro Dikmental Provinsi DKI Jakarta, FKUB Wilayah dan Majelis-Majelis Agama(fkub/budi)

FKUB DKI Jakarta Menyelenggarakan Rapat Koordinasi

Sekretaris FKUB Provinsi DKI Jakarta, H. Taufiq Rahman Azhar sedang memberikan sambutan sekaligus pengarahan kepada FKUB Wilayah

FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta ingin menjadi organisasi yang mampu mengelola Dana Hibah dari Pemerintah Provinsi dengan baik dan banar serta mampu membuat pelaporan pajak.
FKUB Provinsi pada hari Senin, 15 Oktober 2018 malaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi Perencanaan Dan Evaluasi Kegiatan dengan FKUB Wilayah Kota dan Kabupaten bertempat di Aula Kantor FKUB Provinsi DKI Jakrta yang beralamat: Graha Mental Spirtual Lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang , Jakarta Pusat.

Kegiatan Rakoor ini merujuk pada Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor: 55 Tahun 2013, Tentang Tata Cara Pengusulan, Evaluasi, Penganggaran, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pertanggungjawaban, Pelaporan Dan Monitoring Hibah, Bantuan Sosial Dan Bantuan Keuangan Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Pasal 23 bahwa (1) Penerima hibah berupa uang menyampaikan laporan penggunaan hibah kepada Gubernur melalui Kepala BPKD selaku PPKD dengan tembusan Kepala SKPD/UKPD pemberi rekomendasi, sehingga FKUB Provinsi DKI Jakarta dan wilayah dituntut mampu menggelola Dana Hibah dan dapat membuat pelaporan dengan baik dan benar.
H. Taufiq Rahman Azhar selaku ketua panitia mengatakan, “Diharapakan dengan kegiatan ini FKUB Provinsi dan Wilayah Mampu menyelenggarakan tata kelola Keuangan FKUB yang akuntabel dan transparan serta mampu membuat laporan pajak yang benar”.

Narasumber dari Kantor Pajak Pratama Dua, Tanah Abang- Jakarta Pusat sedang memberikan materi tentang menyusun pelaporan pajak yang benar

Materi Rakoor sessi pertama diisi oleh pemateri dari Kantor Pajak Pratama Dua Tanah Abang tentang menyuusun laporan pajak yang benar, dan sessi kedua diisi oleh dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi DKI Jakarta tentang Tata kelola keuangan Hibah yang bersumber dari Dana Hibah Provinsi DKI Jakarta.

Kegiatan Rapat Koordinasi diikuti oleh seluruh pimpinan dan anggota FKUB Provinsi, Ketua, sekretaris dan Bendahara FKUB Wilayah.(fkub/budi)

Penyerahan Surat Rekomendasi Pembangunan Gereja Bethesda Jakarta Utara

(FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) PRovinsi DKI Jakarta menyerahkan surat rekomendasi renovasi pembangunan bagi rumah ibadah Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra Jakarta yang beralamat, Jl. Kramat Jaya, Gg. Pepaya, Kel.Semper, Kec. Cilincing – Jakarta Utara.

Penyerahan surat rekomendasi Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra diberikan oleh Sekretaris FKUB DKI Jakarta H. Taufiq Rahman Azhar kepada panitia pembangunan dikantor FKUB Jakarta pada hari Selasa, 17/7/2018.

Bangunan Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra dibangun pertama kali pada Hari Minggu, tanggal 22 Juni 1983, dan kini kondisi Gedung Gereja Bethesda sudah sangat memprihatinkan karena rangka atap gereja sudah lapuk sehingga terjadi kebocoran pada bagian atap, hampir seluruh kusen jendela dan pintu telah lapuk dimakan rayap dan kalau hujan lebat Gereja terendam banjir. Sehingga pengurus Gereja bermaksud merenovasi gereja guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga jemaat yang beribadah di Gedung Gereja Bethesda.

Berdasarkan surat permohonan rekomendasi dari Gereja Bethesda yang dikirimkan kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dengan dilampiri dokumen persyaratan dan  hasil kunjungan lapangan pengurus FKUB Jakarta kelokasi pembangunan pada tanggak, 3 Juli 2018 dengan mendengarkan kesaksian dari tokoh masyarakat, pihak keamanan maka sudah selayaknya Gereja Bethesda diberikan surat rekomendasi pembangunan renovasi dari FKUB DKI Jakarta untuk dipergunakan mengurus IMB kepada Gubernur DKI Jakarta.(fkub/budi)

Echa Abdullah: “Majelis Agama dan Ormas Keagamaan Memegang Peranan Penting dalam Mewujudkan Kerukunan Masyarakat Jakarta

KH. Echa Abdullah – Ketua Panitia sedang memberikan sambutan

(FKUB JAKATA) Sesuai ketentuan yang ada dalam Peratuan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No.9/8 thn 2006, FKUB Provinsi memiliki tugas pokok dan fungsi yaitu  Satu, melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat,  Kedua, menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat,  Ketiga, menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan gubernur; dan Keempat, melakukan sosialisasi peraturan perundangundangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat.

Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta dalam memenuhi ketentuan yang ada dalam PBM No.9/8 thn 2006 menyelengarakan kegiatan sosialisasi Peraturan Perundang-undangan serta Kebijakan tentang kerukunan dan pemberdayaan masyarakat dengan tema “Kita Wujudkan Jakarta Baru Yang Rukun dan Damai” dilaksanakan di Hotel Sentral yang beralamat di Jl. Raya Pramuka – Jakarta (5/7/2018).

Kegiatan Sosialisasi ini diikuti oleh perserta dari perwakilan majelis majelis agama, organisasi masyarakat keagamaan, aktivis wanita, KUB Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta dan anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta yang semuanya berjumlah 60 orang.

Menurut Echa Abdullah selaku ketua panitia acara sosialisasi ini mengatakan, kegiatan ini kami khususkan untuk beberapa komponen di masyarakat DKI Jakarta, dan menurut petimbangan kami  justru yang memegang peranan penting dalam mewujudkan kerukunan masyarakat Jakarta yaitu majelis-majelis agama, pimpinan ormas keagamaan, aktivis wanita, FKUB dan KUB Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta.

Menurut kami ini sangat penting didalam kita memasuki usia Jakarta yang ke 491, diharapkan oleh kita, dan pemerintah agar Jakarta lebih maju, maju kotanya dan sejahtea rakyatnya dan para peserta ini yang memegang peranan penting dalam mewujudkan kerukunan masyarakat Jakarta, imbuhnya.

Echa juga berharap, melalui sosialisasi ini peserta bukan hanya nanti mampu menyerap apa yang disampaikan oleh para narasumber tetapi nanti mempu melaksanakan di ormas dan agama kita masing masing, sehingga akan ada sinergi kerjasama diantara kita bersama dan sama sama bekerja untuk bagaimana memberdayakan masyarakat  Jakarta ini khususnya Jamaah dan umat kita masing-masing, sehingga apa yang  kita harapkan yaitu terwujudnya Jakarta baru yang rukun dan damai bisa tercapai.

Echa menambahkan, semoga melalui sosialisasi ini mudah-mudahan setelah menyerap, bertemu, bersilaturahim, dan saling mengenal  maka keakraban diantara kita semakin kokoh, persaudaraan antara kita semakin dekat dan dengan demikian insya Allah kerjasama diantara kita akan makin meningkat dan apa yang diharapak pemerintah provinsi  “Jakarta lebih maju, maju kotanya dan sejahtea rakyatnya” dapat terwujud berkat kerjasam kita. Dan mudah-mudahan forum ini bisa dijadikan senjata kita dalam rangka membangun Jakarta ini lebih maju dan lebih baik, pungkas echa.

Kegiatan sosialisasi ini dibuka oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta –KH. Ahmad Syafii Mufid sekaligus menjadi narsumber dengan materi “Peran Serta Masyarakat Dalam Membangun Dan Memelihara Kerukunan” dan narasumber kedua adalah H. Bahrul Hayat, P.hD dengan judul materi “Membangun Kerukunan Umat Beragama” (fkub/budi)

 

Iedul Fitri dan Toleransi

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh tanggal 1 Syawal menurut kalender Qomariyah tahun Hijriyah. Perayaan Idul Fitri berhubungan dengan selesainya puasa selama bulan Ramadhan dan telah ditunaikan zakat fitrah. Puncaknya, shalat Ied yang dilaksanakan di masjid-masjid atau di lapangan. Malam menjelang shalat Ied kumandang takbir dari masjid, mushola bahkan ada pawai takbir. Bagi kaum urban, mudik Iedul Fitri menjadi ritual sosial yang tak tergantikan. Pulang kampung. Ketemu orang tua, halal bi halal saling memaafkan dan mendoakan. Anak minta doa dan restu orang tua dan orang tua mendoakan anak-anak serta cucunya. Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, mereka ziarah kubur untuk mendoakan kebaikan bagi orang tuanya. Shalat Ied dan silaturrahmi itulah esensi perayaan hari raya Iedul Fitri.

Kata Ied berasal dari kata aada-yauudu yang berarti kembali. Sedangkan kata fitri berarti suci. Kata fitri juga berarti buka puasa berdasar dari kata ifthar-masdar afthara yufthiru. Selanjutya kata fitri berarti bersih, suci dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan, diambil dari pemahaman sebuah hadis “barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata mengharap ridho Allah maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu”  (HR.Muttafaq Alaih). Dari hadis inilah Iedul Fitri dimaknai kembali ke fitrah, suci seperti awal kejadian seorang bayi yang baru lahir tanpa dosa dan salah. Kegembiraan yang menyertai perayaan Iedul Fitri adalah mengagungkan nama Allah dengan takbiran di malam hari, awal bulan Syawal disetai memuliakan sesama manusia dengan berbagi (zakat). Zakat  disebar untuk orang fakir dan miskin dan mereka yang berhak menerima zakat lainnya. Zakat tidak boleh dibagikan kepada kafir dhimmi, sebagaimana mereka tidak boleh mengikuti shalat Iedul Fitri. Dalam ibadah dan berkeyakinan berlaku dalil “lakum dinukum waliyadin” bagimu agamamu dan bagiku agamaku ( Q.S. 109: 6). Tidak ada toleransi dalam ibadah dan keyakinan. Toletansi ada dalam ranah muamalah,  yang berhubungan dengan relasi sosial.

Perbedaan perayaan hari raya Islam (Iedul Fitri dan Iedul Adha) dengan perayaan hari raya yang lain adalah, tidak ada pesta pora, tidak ada tari-tarian, nyanyian dan mabuk. Sebelumnya, orang Arab sebelum Islam mengikuti perayaan hari raya Nairuz dan Mahrajan yang diwarisi dari tradisi kuno. Mereka mabuk, makan, menari dan menyanyi untuk melampiaskan kesenangan (Ensiklopedi Islam). Islam datang menggantikan dan memperbaiki tradisi yang tidak mengagungkan Tuhan dan memuliakan sesama manusia tersebut. Jadi, meskipun orang Islam bergembira dalam merayakan Iedul Fitri mereka tidak bebas berbuat apa saja. Ingat kepada Allah dan ingat kepada nasib orang-orang yang belum beruntung. Itulah makna Iedul Fitri yang diajarkan kepada kita dan kita alami selama ini.

Bagi umat beragama lain, ada ruang untuk ikut bersama-sama saudara muslim dalam merayakan seremonial. Ritual zakat, sholat Iedul Fitri dan mengumandangkan takbir di masjid hanya untuk orang Islam. Sedangkan seremonial yang melengkapi kebahagiaan Iedul Fitri adalah acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh warga bangsa sejak zaman me zaman. Konon acara ini bermula dari era kesultanan Surakarta. Sultan atau raja berkehendak meminta maaf kepada warga. Dikumpulkanlah para kawula di bangsal keraton. Raja serta permaisuri duduk di kursi singgasana kemudian punggawa satu persatu  melakukan “sungkeman” saling meminta maaf. Tradisi ini berlanjut hingga sekarang menjadi acara Halal bi Halal. Sebagai sebuah perayaan (seremoni) halal bi halal bukan upacara sakral (ritual). Halal bi halal terbuka untuk siapa saja. Semua penganut agama boleh melakukannya. Apakah dia sebagai pejabat atau atasan maupun sebagai bawahan. Halal bi halal memiliki makna silaturrahmi, mempererat persaudaraan dan keakraban. Saling memaafkan terhadap kekesalan dan kesalahpahaman.

Indonesia sebagai negara kebangsaan yang multikultural, silaturrahmi halal bi halal dapat menjadi pembelajaran toleransi. Pada acara ini kita mengetahui serta menghargai adanya pegawai.

 

1 2 3 7