Kesbangpol Dan FKUB Jakarta Gelar Dialog Peningkatan Kerukunan Umat Beragama

3

Para Narasumber (Ki-Ka) : Taufan Bakrie, Firdaus Syam, MA PhD, AKBP Jajang Hasan Basri dan KH. Ahmad Syafii Mufid

(FKUB-Jakarta) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya menyelenggarakan Dialog Lintas Agama yang dilaksanakan di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Jl. Awaludin II-Kebon Melati – Tanah Abang- Jakarta Pusat, Senin, 17 April 2017.

Kegiatan yang diberi nama “Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Angkatan Pertama tahun 2017” diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan sambutan dari Drs, Ridwan selaku Kepala Bidang Kerukunan Umat Beragama Kesbangpol DKI Jakarta.

Menurut Ridwan, dasar kegiatan adalah keputusan no2 thn 2017 tgl 3 jan 2017 tentang kesbangpol yang bertujuan memberi penyuluhan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh etnis untuk membangun sikap beragama terutama toleransi.

Ridwan menambahkan, Kegiatan seperti ini akan dilaksanakan sebanyak empat puluh kali sepanjang tahun 2017, dibagi di lima wilayah.

Sementara itu, Taufan Bakri mewakili Kepala kesbangpol menambahkan, pertemuan ini sebagai tatap muka tokoh agama dengan masyarakat beserta Alumni SABDA FKUB Jakarta.

Pertemuan ini sebagai silahturahmi dengan berbagai umat beragama, karena sejak dulu sikap rukun sudah ada, sehingga kita jangan terprovokasi karena suasana pilkada,imbuhnya.

Taufan menjelaskan bahwa, akan mengupayakan Pilkada kali ini menjadi Pemilu yang gembira tanpa rasa takut untuk datang ke TPS, karena TPS akan dijaga oleh aparat keamanan sehingga TPS dalam kondisi aman.

KH. Ahmad Syafi’i Mufid -Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta yang menjadi narsumber pertama memberi makalah dengan judul “ Memelihara prinsip-prinsip kerukunan pada masyarakat muktikultural”.

Menurut Syafii Mufid, sejak 2015 FKUB sudah berikrar meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dilanjutkan dengan diskusi dan dialog mengajak semua warga khususnya warga DKI membangun Jakarta yang damai dan aman.

Kegiatan kali ini memberi arahan bagaimana membagun kerukunan. Bagaimana roses sosial dimulai dari proses kasih sayang, tanpa proses kasih sayang manusia akan tumbuh menjadi orang yang tdak punya perasaan, imbuhnya

Kerukunan itu dibangun dengan mengembangkan etika dan spritualitas. Tafsir agama sebaiknya diambil dengan menjunjung tinggi kebersamaan. Antar kelompok mesti membuka diri, tidak eksklusif/kumpul dengan kelompoknya sendiri dan selalu membangun dialog.

Syafii Menambahkan bahwa, index kerukunan Umat Beragama di Provinsi DKI Jakarta berada di level 15 dari 34 provinsi. dan Index kerkunan umat beragama tertinggi di Indonesia ditempati oleh Provinsi Papua dan index yang terendah ditempati oleh provinsi Aceh, lanjutnya.

Kerukunan Umat Beragama di Jakarta sekarang ini sedikit terganggu dengan pelaksanan Pilkada Gubernur DKI Jakarta, dampak pilkada provinsi DKI Jakarta kali ini sangat luar biasa, tercipta saling curiga antar umat beragama. Dan FKUB provinsi DKI Jakarta dan Alumni SABDA mesti siap menjadi pemadam kebakaran konflik yang ada, tandasnya.

2

Pada sessi kedua yang menjadi narasumber Firdaus Syam, MA PhD(Dosen Pasca Sarjana Universitas Nasional) dengan materi paparan “Tumbuhkan Sikap Toleransi Melalui Spiritualitas Akidah Yang Benar Dan Kokoh”.

Menurut Firdaus, Indonesia ini dikarunia kekayaan yang luar biasa. Kemajemukan budaya, agama, flora fauna dan lain-lain. Ada banyak flora dan fauna yang ada di sini tidak ada di negeri orang. Tidak ada satupun suku yang tidak percaya Tuhan.

“Fitrahnya manusia adalah percaya adanya Tuhan”.

Firdaus menambahkan, Islam berasal dari kata Asalam yang artinya kasih sayang. Orang Islam di Indonesia sebagai agama mayoritas punya tanggung jawab besar mewujudkan kasih sayang dengan yang lain.

Tugas utama FKUB menciptakan kerukunan dengan cara membangun silahturahmi, menumbuhkan cinta kasih, saling mendoakan. Silahturahmi hendaknya dimulai dari keluarga, komunitas, masyarakat, pangkasnya.

Semantara itu AKBP Jajang Hasan Basri, S. Ag, M.Si. selaku Kabag Direktorat Bimas Polda Metro Jaya menjelaskan kondisi Situasi Aktual Kamtibmas Provinsi DKI Jakarta.

“Situasi Jakarta umumnya aman karena dapat dikendalikan. Situasi Kamtibmas saat ini ada 3 issue yang sedang hangat yaitu issue bangkitnya paham komunisme, issue Khilafah Islamiyah, issue Syariat Islam”

“Issue tersebut muncul dan beredar di media social dan kita perlu duduk bersama untuk mengklarifikasi issue tersebut”.

AKBP Jajang menambahkan, yang tidak kalah penting sekarang ini Issue Politik yang banyak menyita perhatian masyarakat,yaitu issue pilkada DKI Jakarta. Pilkada DKI Jakarta ini serasa pilpres. Akan tetapi Issue tersebut tidak perlu ditakutkan sampai tidak mau datang ke TPS.

“Kami sudah melakukan safari kamtibmas bersama FKUB Jakarta, berkunjung ke Gereja, Masjid, Klenteng, Pura, Vihara untuk menjaga stabilitas keamanan menjelang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Putatan Kedua”.

Peserta dialog lintas agama ini diikuti oleh delapan puluh orang, perwakilan dari majelis agama diwilayah Jakarta Pusat. Dan yang menjadi panitia pelaksana kegiatan tersebut adalah Alumni SABDA FKUB Jakarta.(fkub/budi)

Ka.Kanwil Kementerian Agama Jakarta, Dr. Abdurrahman:”Pluralitas Ini Harus Kita Jaga Dan Rawat”

Dr. H.Abdurrahman - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta

Dr. H.Abdurrahman – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta

(FKUB-Jakarta) Kegiatan Sekolah Agama-Agama Dan Bina damai (SABDA) ini sangatlah penting. Karena ini merupakan salah satu icon dalam rangka merawat kerukunan di Jakarta.

Masalah kerukunan ini merupakan masalah yang dinamis dan terus bergerak. Kita tidak dapat bisa memastikan atau menjamin bahwa di negara Republik Indonesia ini tidak akan timbul konflik. Bahkan potensi ke arah konflik itu sangat besar, hal tersebut dikatakan Dr. H. Abdurrahman – Ka.Kanwil Kementerian Agama Povinsi DKI Jakarta pada acara SABDA Khusus penyuluh agama dikalangan kementrian Agama Povinsi DKI Jakata, pada hari Selasa, 11/4/2014 di Hotel Bahtera – Cipayung -Megamendung Bogor.

Indonesia ditinjau secara geografis terdiri dari banyak pulau dan suku bangsa serta berbagai agama yang hidup subur di negeri yang kita cintai ini. Artinya bahwa perbedaan menjadi satu keniscayaan di Republik kita ini. Sebagai orang bangsa Indoensia yang dilahirkan, tidak bisa tidak, kita dihadapkan kepada situasi yang majemuk (plural), tambahnya.

“Pluralitas inilah yang harus kita jaga dan rawat, Apalagi, kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Dan menjadi tugas kita bersama bagaimana merawat kebhinekaan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja”.

Abdurrahman menambahkan, Negara memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk melaksanakan agamanya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Di dalam Undang-undang sistem Pendidkan Nasional No.20 dikatakan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama dan kepercayaan yang diyakininya. Misalnya, orang Islam yang belajar di sekolah non Islam maka dia berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan yang diyakini oleh anak murid tersebut. Begitu juga sebaliknya,  Ini merupakan tugas kita bersama dan tugas negara.

“Saya kira tidak ada di negara lain yang setiap hari besar keagamaan  pemerintah ikut memfasilitasi dengan memberi kesempatan libur kepada setiap pemeluk agama, bahkan menjadi hari libur nasional”, imbuhnya.

DSC00065

Mantan Ka.Kanwil Lampung ini menjelaskan bahwa, pemeliharaan kerukunan umat beragama dengan pemerintah adalah sebagai konsepsi alamiah sebagaimana konsepsi  Alamsyah seorang Menteri Agama yang terdahulu dengan Tri Kerukunan Umat Beragama. Kerukunan antar  umat beragama, kerukunan intern umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Potensi ketidakrukunan antara umat beragama ini akan berimplikasi kepada ketidakrukunan secara nasional. Oleh karena itu pemerintah menyadari bahwa pangkal kerukunan itu adalah rukun antar sesama pemeluk agama, tambhanya.

Oleh Sebab itu, bagaimana kita membangun keragaman, realitas harmonis adalah keharusan. Artinya, bagaimana kita menjadikan Jakarta ini sebagai masyarakat yang ta’at beragama,

“Jakarta adalah barometer, tenangnya Jakarta akan menjadi tenangnya Republik ini. Bergolaknya Jakarta maka Republik ini akan terjadi gejolak”.

Pada kesempatan itu Ka.Kanwil menyampiakan harapannya kepada penyuluh – penyuluh agama baik itu penyuluh PNS maupun Non PNS bahwa tugas penyuluh itu adalah memberikan penerangan yang baik ditengah-tengah masyarakat.

“Saya berharap kepada saudara-saudara sekalian, baik itu penyuluh PNS maupun Non PNS bahwa tugas penyuluh itu adalah memberikan penerangan yang baik”

Dan diharapakan setelah mengikuti sekolah SABDA ini saudara-saudara telah memilili bekal bagaimana menjadi seorang tokoh itu memiliki sikap toleran.

Ka.Kanwil juga menegaskan bahwa, dengan bersikap toleran tersebut bukan untuk melacurkan diri. Bersikap toleran itu berarti memberikan penghargaan kepada orang lain untuk melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dan juga didalam menyebarkan agama itu tidak boleh menyebarkan kepada penduduk yang sudah beragama. Jadi, melakukan pembinaan atau penyebaran agama kepada umat masing-masing. Kecuali yang dimungkinkan oleh peraturan atau undang-undang, tegasnya.

Penyelenggaraan SABDA Khusus Penyuluh Agama ini atas kerjasama antara FKUB Provinsi DKI Jakarta denga Kantor Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan selama Tiga hari dari tanggal 11-13 April 2017 di Hotel Bahtera, Jl. Cipayung – Megamendung.

Peserta SABDA khusus Penyuluh agama ini diikuti oleh penyuluh Islam tiga belas orang, penyuluh Kristen enam orang, penyuluh Katolik enam, penyuluh Hindu enam orang, penyuluh Buddha  lima orang dan penyuluh Khonghucu empat orang dan jumlah totalnya empat puluh orang.sedangkan narasumbernya dari FKUB DKI Jakarta dan Global Peace Foundation.(fkub/budi)

 

FKUB DKI Jakarta Menyelenggarakan SABDA Khusus Penyuluh Agama

DSC00049

KH. Ahmad Syafii Mufid Ketua FKUB DKI Jakarta

(FKUB-Jakarta) FKUB Provinsi DKI Jakarta terus saja mencetak kader-kader perdamaian di wilayah provinsi DKI Jakarta, agar kerkunan dan kedamaian di Jakarta tetap terjaga dengan cara melaksanakan kegiatan Sekolah Agama-Agama Dan Bina Damai (SABDA).

Pelaksanaan SABDA kali ini, FKUB Jakarta bekerjasama dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan di Hotel Bahtera Jl. Raya Cipayung – Megamendung Bogor, berlangsung selama 3 hari dari tanggal 11-13 April 2017, dan yang  menjadi pesertanya adalah para penyuluh-penyuluh agama yang PNS maupun Non PNS Se DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu, ketua FKUB Jakarta-KH. Ahmad Syafii Mufid memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan SABDA khusus penyuluh agama.

Dalam sambutannya, Syafii Mufid mengatakan bahwa, SABDA kali ini khusus untuk para penyuluh-penyuluh agama, makanya disebut SABDA Khusus. Kalau yang kemarin kita laksanakan itu untuk tokoh-tokoh agama, yang nantinya diharapkan menjadi pengganti FKUB atau untuk menjadi karib FKUB.

Kegiatan SABDA ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan juga keterampilan kepada para penyuluh agama untuk menjadi pemandu kerukunan. Memandu kepada siapa saja agar terwujud kerukunan, lanjutnya.

Syafii Mufid menambahkan, bahwa sekarang ini sudah ada perubahan paradigma tentang penanganan konflik, bahwa  penaganannya bukan lagi dilakukan setelah terjadi konflik tapi bagaimana agar supaya tidak ada konflik atau sebelum ada konflik.

Kalau dalam bahasa usul fiqihnya darbul mafasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih. Maksudnya, mencegah kerusakan itu lebih didahulukan dibandingkan membangun kebaikan. Oleh karena itu diupayakan jangan sampai ada konflik. Dihindari betul agar supaya tidak ada konflik, imbuhnya.

Konflik itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada konflik yang disebabkan karena persoalan rumah tangga, ada konflik yang disebabkan karena individu, ada konflik karena persoalan ekonomi, ada konflik yang disebabkan karena social dan bahkan ada konflik yang disebabkan karena persoalan agama. Hal itu semua jangan sampai terjadi.

Agar supaya tidak terjadi konflik maka yang harus dikembangkan adalah Bina Damai. Dan itulah yang namanya SABDA, yaitu Sekolah Agama-agama dan Bina Damai. Inilah paradigma baru penanganan konflik dengan memperkuat BINA DAMAI. Lalu bagaimana BINA DAMAI itu berjalan? Itulah SABDA bekerja. Jadi, harus dijadikan perdamaian ini menjadi nafas dunia, tegasnya.

Drs. H. Taufiq, M,M Kasubbag Hukun dan KUB Kementeian Agama Provinsi DKI Jakarta

Sementara itu Drs H. Taufiq, M,M selaku Kasubbag Hukum dan KUB Kementerian Agama Provinsi DKI Jakata mengucapkan terima kasih kepada FKUB yang telah bersedia membantu dalam merencanakan SABDA Khusus Penyuluh ini. Sebenarnya, kami sudah merencanakan ini sudah bertahun-tahun,imbuhnya.

Taufiq menambahkan, bahwa pelaksanaan acara ini berdasarkan hukum pada perundang-undangan yang berlaku pada Pasal 28 E UU No.1 PNPS Tahun 1965. Juga berdasarkan Peraturan Menteri No.16 Tentang organisasi di Kementerian Agama dimana tujuannya untuk menjaga dan memelihara kerukunaan agama di DKI Jakarta.

“Kami mengharapkan bahwa penyuluh agama nantinya menjadi ujung tombak Kementerian Agama dalam rangka memfilter apapun yang terjadi di Jakarta”.

Taufiq berharap, dengan adanya SABDA harmonisasi kehidupan antar umat beragama di wilayah Jakarta akan bisa terjalin. Apalagi sekarang ini menjelang Pemilu, dengan terselenggaranya SABDA merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan kedamaian di wilayah DKI Jakarta. Dalam konteks acara ini bagaimana kita membina warga untuk lebih baik lagi, ujarnya.

Pada kegiatan SABDA khusus Penyuluh agama ini diikuti oleh penyuluh Islam tiga belas orang, penyuluh Kristen enam orang, penyuluh Katolik enam, penyuluh Hindu enam orang, penyuluh Buddha  lima orang dan penyuluh Khonghucu empat orang dan jumlah totalnya empat puluh orang.(fkub/budi)

 

Safari Kamtibmas, Ahmad Syafii Mufid:”Pikiran Kita Harus Terang Benderang Dan Terbuka Dalam Mengikuti Pemilukada”

1(FKUB-Jakarta) Forum Kerukunan Umat Beragama ada di masyarakat untuk saling merekatkan umat dari berbagai agama. Membangun kebersamaan antar umat beragama dan tokoh lintas agama di Provinsi DKI Jakarta.

Tujuan diadakan safari kamtibmas silaturahmi ini untuk menyerukan dan menggugah segenap umat beragama di DKI agar mau mewujudkan pemilukada yang aman, untuk Jakarta kita tercinta, boleh damai dan rukun walau sedang berada dalam situasi panas saat pemilukada. Hal tersebut disamapaikan ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid pada acara Safari Kamtibmas di Klenteng Kong Miao, Sabtu, 8/4/2017.

Ahmad Syafii menambahkan, diharapkan pikiran kita sebagai umat beragama terang-benderang dan terbuka dalam mengikuti pemilukada kita ini.

“Pilihlah pimpinan yang menggunakan hati-otak-kaki-tangan dengan sebaik-baiknya dengan pikiran kita yang sejernih-jernihnya”lanjutnya.

Kerukunan di DKI Jakarta masih relatif rendah. Maka mari kita dengan penuh kesadaran yang matang sadari itu, jangan sampai ada pihak-pihak dari luar kalangan agama yang ingin kita berantem terus yang berakibat Jakarta tidak maju-maju. Dalam hal ini sangat perlu sekali kita tingkatkan kewaspadaan terhdap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu, pungkasnnya.

2

Sementara itu, AKBP Jajang Hasan Basri KBO Binmas Polda Metro Jaya mengatakan, kita di DKI Jakarta kini sedang menghadapi Pilkada, dengan dua paslonnya yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda, maka kita sebagai warga DKI Jakarta dalam memilih pasangan pilihan kita hendaknya tidak ikut-ikutan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak elegan apalagi yang menyangkut SARA.

Fakta di lapangan sudah banyak terlihat spanduk-spanduk yang dipasang oleh kedua kubu yang saling menyerang. Diharapkan kita sebagai umat beragama tidak ikut-ikutan menghujat bahkan tidak usah juga terpengaruh dengan hujatan-hujatan itu apalagi dengan cara balas menghujat, imbuhnya.

AKBP Jajang pada kesempatan itu berharap kepada peserta yang hadir  agar bisa menyapaikan pesan ini kepada saudara-saudara atau rekan yang tidak hadir.

AKBP jajang pada kesempatan yang sama memuji dan berterima kasih kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta, FKRK Polda Metro Jaya, dan tentu khususnya kepada Matakin DKI di bawah ibu Liliany yang menjadi tuan rumah acara safari kali ini.

Kegiatan Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta diselenggarakan dalam rangka persiapan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, dilaksanakan dirumah rumah ibadah di DKI Jakarta.

Pada kesempatan itu hadir, KBO Binmas Polda Metro Jaya – AKBP. Jajang Hasan Basri beserta jajarannya, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta Prof. Dr. KH Syafi’i Mufid dan KH Astamar, Drs. Nengah Dharma dari PHDI dan Tokoh dan umat-umat Khonghucu se DKI. (fkub/imsal/budi)

AKBP Anjar Gunadi: “DKI Jakarta sebagai Barometer Demokrasi di Republik Indonesia”

Wadir Binmas Polda Metro Jaya - AKBP Anjar Gunadi

Wadir Binmas Polda Metro Jaya – AKBP Anjar Gunadi

(FKUB-Jakarta) Pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017 merupakan boremeter demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu pelaksanaanya pun harus sukses, yaitu terselenggara secara tertib, aman dan damai.

“Maka kami berpesan hendaknya warga Jakarta harus mempergunakan hak pilihnya sebaik mungkin dan meninggalkan perilaku-perilaku yang tidak terpuji”, demikian paparan yang disampaikan oleh AKBP Anjar Gunadi, Wadir Binmas Polda Metro Jaya pada acara safari Kamtibmas 2017 selepas sholat magrib berjama’ah di masjid Cut Meutia Jakarta Pusat. Senin (3/4/2017).

Pada kesempatan silaturahim tersebut, AKBP Anjar Gunadi bersama rombongan terlebih dahulu memperkenalkan dirinya, lalu beliau menyampaikan pesan dari Kapolda Metro kepada para jama’ah bahwa, “saat ini khusus DKI Jakarta sedang menghadapi Pilkada putaran kedua bulan April ini. Kami aparat Kepolisian tidak memihak kemanapun yang penting buat kami DKI Jakarta itu harus aman.” ungkapnya.

Ditambahkannya, “pelaksanaan Pilkada di DKI Jakarta harus berjalan dengan lancer. Jangan sampai peristiwa 1998 terulang kembali yang membawa dampak buruk bagi warga DKI Jakarta.”

KH. Ahmad Syafi'i Mufid - Ketua FKUB Povinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafi’i Mufid – Ketua FKUB Povinsi DKI Jakarta

Di tempat yang sama, K.H. Ahmad Syafi’i Mufid, Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, yang menyertai rombongan Polda Metro menyampaikan tausiyahnya bahwa “kita umat Islam harus menjadi umat yang memiliki akhlakul karimah, diantaranya yaitu hendaknya kita mengedepankan musyawarah mufakat. Jangan melakukan provokasi dan kekerasan. Bila terjadi kekerasan maka yang ada adalah balas dendam. Begitu seterusnya.”

“Kalau kita melihat jumlah penduduk DKI Jakarta, sebagian besar masih berpendidikan rendah. Demikian juga masalah ekonominya. Ke depan, hadirnya Pilkada semoga membawa dampak positif, yaitu mampu menjawab ketertinggalan dua persoalan ini”, tuturnya.(fkub/imsal)

Ahmad Astamar:”Fitrah Manusia itu Pada Dasarnya Adalah Menghendaki Perdamaian”

IMG-20170402-WA0014(FKUB-Jakarta) Dalam pelaksanaan Pilkada, ada orang yang kerjanya mengadu domba.  Dan sesungguhnya terhadap orang-orang yang mencoba mengadu domba ini yang harus kita waspadai.

Hal tersebut disampaikan H. Ahmad Astamar mewakili Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta pada kegiatan Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya bersama FKUB DKI Jakarta dan Forum Kemitraan Religi Kamtibmas di Gereja Katedral pada hari minggu, 3/4/2017.

“Dalam konteks kita hari ini sebagai warga Jakarta, mereka harus kita curigai agar tidak terjadi musibah”

Ahmad Astamar menambahkan, “Di sinilah peran para pemuka agama untuk mengingatkan dan berdialog agar bisa back to basic. Bahwa fitrah manusia itu pada dasarnya adalah menghendaki perdamaian, tegasnya.

Ust. H. Robby Nurhadi Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas Polda Metro Jaya

Robby Nurhadi Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas Polda Metro Jaya

Sementara itu, H. Robby Nurhadi, selaku ketua FKRK dan Sekretaris MUI Prov. DKI Jakarta mengatakan, “Negeri Indonesia ini seperti gadis cantik, dan pemilik gadis cantik tersebut ada di Jakarta, dan sudah pasti yang namanya gadis cantik itu menjadi rebutan.

Banyak analisa yang telah sampai kepada kita yang intinya adalah kita tidak pernah henti-hentinya menjadi objek bancakan dari luar, apakah itu dari barat maupun dari timur dan lain sebagainya.”

Robby menegaskan, bahwa yang terpenting dari itu semua dan harus menjadi kesadaran bersama adalah posisi kita. Jangan sampai kita tidak sadar dan menganggap biasa saja tinggal di rumah sendiri, sedangkan keadaan nasib kita ternyata ditentukan oleh pemilik kepentingan. Ini tidak boleh terjadi, jelasnya

Tentunya kita harus sadar bahwa Jakarta adalah rumah kita, siapa lagi yang akan menjaganya? “Disinilah kita hidup dan disinilah anak-anak kita sekolah dan bekerja,tegasnya.

Taufan Bakri, mewakili pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta menambahkan, “sebenarnya keadaan di Jakarta itu enak, aman dan damai saja, tinggal bagaimana kita mempolanya. Sesungguhnya pilkada itu seperti yang dikatakan Plt Gubernur adalah pesta demokrasi.

Pada putaran pertama kemarin, kami membuat acara di TPS di depan kantor Balaikota dengan memakai baju adat Betawi diiringi musik keroncong. Oleh karena itu kami merumuskannya dengan angka 39. Apa maksudnya?

“Angka tiga itu adalah transparansi, kebebasan dan kebersamaan. Sedangkan angka Sembilan merupakan program Gubernur DKI Jakarta”, imbuhnya

Taufan menegaskan bahwa, Kesbangpol sebagai fasilitator mempunyai dua prinsip, yaitu pertama menjaga. Siapapun warna kulitnya harus dijaga jangan sampai ada kerusuhan kembali. Dan yang kedua bagaimana kue pembangunan ini mampu merembes sampai ke bawah.” ungkapnya.

Pada kegiatan Safari Kamtibmas kali ini dihadiri, Wadir Binmas Polda Metro Jaya – Anjar Gunadi, Kabag Binmas Operasional (KBO) AKBP Jajang Hasan Bisri, Kasubdit Pembinaan dan Penyuluhan, Kepala Seksi Binmas, Waka Polsek Sawah Besar dan Pembina Kamtibmas Pasar Baru. Selain itu ada pula pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta, Pembinmas Kanwil Kemenang DKI Jakarta, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas (FKRK) Polda Metro Jaya. Sedangkan dari pihak tuan rumah dihadiri oleh para rohaniawan, pengurus dan aktivis Keuskupan Agung Jakarta(fkub/imsal/budi)

Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Anjar Gunadi: “Jangan Takut Datang ke TPS Saat Pencoblosan”

1(FKUB-Jakarta) Provinsi DKI Jakarta merupakan barometer bagi bangsa Indonesia, karena Jakarta adalah Ibukota Negara sekaligus miniatur Indonesia.Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 juga menjadi barometer demokrasi di Indonesia.

Pelaksanaan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta 2017, menjadikan kondisi Jakarta sedikit agak memanas. Terkait dengan masalah Kamtibmas, “esktalasi keadaan di DKI Jakarta selalu dalam pengawasan kami, karena khusus wilayah DKI Jakarta merupakan etalase Republik ini.  Jadi, cerminan bagi negara Republik Indonesia barometernya adalah DKI Jakarta, hal itu disampaikan oleh AKBP Anjar Gunadi, Wadir Binmas Polda Metro Jaya saat mengadakan safari Kambtibmas hari kedua di gereja Katedral Jakarta Pusat Minggu, (2/4/2017).

“Bilamana Jakarta aman bisa dijustifikasi bahwa Indonesia aman”imbuhnya

Sekarang sedang memasuki masa kampanye yang akan berakhir pada H-3, yaitu tanggal 16 April 2017. Diharapkan semua pasangan calon mengedepankan perdamaian selama berkampanye.

2

AKBP Anjar Gunadi meminta kepada seluruh masyarakat Jakarta khususnya umat Katolik untuk tidak takut mendatangi TPS.

“Pada saat Pilkada nanti tidak usah takut untuk datang ke TPS. Jaminannya adalah kita semua yang hadir disini,  Karena di tanggal 19 April nanti, kami telah menyiapkan keamanan untuk satu TPS itu ada seorang petugas keamanan dari Polri dan TNI, lanjutnya.

Anjar Gunadi menambahkan, sebagai bukti keseriusan pengamanan Pilkada DKI Jakarta, kami sudah mendatangkan 40 kompi personil Brimob dari daerah yang tidak ada Pilkadanya masuk datang ke Jakarta. Mereka kami tempatkan ditempat-tempat di wilayah DKI Jakarta yang strategis manakala  diperlukan. Dalam masalah keamanan ini kami tidak under estimate, tetapi melakukan pengamanan penuh dan all out guna mengamankan wilayah Jakarta ini, pungkasnya.

Dalam acara safari Kambtibmas  kedua kali ini, Polda Metro Jaya menurunkan tim yang cukup lengkap, diantaranya hadir Kabag Binmas Operasional (KBO) AKBP Jajang Hasan Bisri, Kasubdit Pembinaan dan Penyuluhan, Kepala Seksi Binmas, Waka Polsek Sawah Besar dan Pembina Kamtibmas Pasar Baru. Selain itu ada pula pejabat dari Kesbangpol DKI Jakarta, Pembinmas Kanwil Kemenang DKI Jakarta, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Forum Kemitraan Religi Kamtibmas (FKRK) Polda Metro Jaya. Sedangkan dari pihak tuan rumah dihadiri oleh para rohaniawan, pengurus dan aktivis Keuskupan Agung Jakarta.(fkub/imsal/budi)

Safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Jajang Hasan Bisri: “Pilkada Aman Dan Damai”

AKBP Jajang Hasan Bisri - KBO Binmas Polda Metro Jaya

AKBP Jajang Hasan Bisri – KBO Binmas Polda Metro Jaya

(FKUB-Jakarta) Menjelang Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta putaran Kedua, yang akan berlangsung pada tanggal 19 April 2017. Polda Metro Jaya bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jakarta menyelenggarakan kegiatan Safari Kamtibmas.

Pilkada aman dan damai itulah harapan masyarakat Jakarta khususnya, terkait pelaksanaan pesta demokrasi 5 tahunan memilih gubernur dan wakil gubernur yang tengah berlangsung di tahun 2017 kali ini.

“Kami mengharapkan pada Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini semua berjalan aman, lancar dan damai”, demikian ungkap AKBP Jajang Hasan Bisri, selaku KBO Binmas Polda Metro Jaya selepas melaksanakan sholat Jum’at bersama jama’ah di Masjid Jami’ Matraman Jakarta Pusat (31/3/2017).

Dalam mengawali safari Kamtibmas Polda Metro Jaya, AKBP Jajang Hasan Basri dalam sambutannya meminta masyarakat Jakarta untuk selalu waspada terhadap isu-isu negative terutama terkait dengan berita yang mudah tersebar di media social.

Pada kesempatan ini, AKBP Jajang menghimbau agar masyarakat jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita yang beredar di media social yang bersifat provokatif, ataupun berbagai berita yang bernada mendiskriditkan suatu golongan.

 “Seperti peristiwa yang terjadi pagi tadi, yaitu ketika saya mendapat kiriman foto di Washapp ada orang lagi menempelkan stiker di mobil yang bertuliskan “Pribumi”. Orang yang menempelkan itu adalah orang tertentu yang berpakaian hitam. Setelah dicek ternyata berita tersebut merupakan kejadian pada tahun lalu.” ungkapnya.

Ditambahkannya, “apalagi ada hembusan berita yang menyatakan bahwa Pilkada DKI Jakarta sekarang ini berada pada level kerawanan yang paling tinggi. Kalau kita tidak memulai dan kita tidak terprovokasi maka semuanya akan berjalan lancar-lancar saja.”

AKBP Jajang berpesan, masyarakat Jakarta harus lebih cerdasi lagi dalabm mensikapi terhadap segala issue yang berkembang bernuansa SARA, agar pesta demokrasi di Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan dengan aman, dan lancar.

KH. Ahmad Syafii Mufid -Keta FKUB Provinsi DKI Jakarta

KH. Ahmad Syafii Mufid -Keta FKUB Provinsi DKI Jakarta

Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta, K.H. Ahmad Syafi’i Mufid memberikan ceramah kepada Jama’ah sholat Jum’at.

Mengawali ceramahnya beliau berpesan bahwa dalam abad millennium sekarang ini, dimana orang banyak menyebutnya sebagai tanda-tanda akhir zaman, hendaknya kita harus mewaspadai bahaya fitnah terutama yang ditimbulkan oleh Dajjal (pembohong atau kebohongan).

“Bila kita mau memahami makna kisah ashabul kahfi (tujuh pemuda gua), ketika dibangkitkan dari tidurnya bersamanya ada koin yang ternyata kemudian uang tersebut tidak laku. Sesungguhnya arrokim (coin) dalam Bahasa Indonesia adalah bandrol. Dari zaman ashabul kahfi sampai kepada zaman dimana segala sesuatu itu ada bandro/label harganya, yang artinya adalah pasar global, dan inilah yang disebut sebagai puncaknya dari berbagai macam kebohongan”, ungkapnya.

Ketika dalam keadaan yang sudah seperti itu hendaknya kaum muslimin harus berhati-hati karena akan banyak fitnah. Terutama fitnah yang paling berat di dunia ini adalah fitnah yang berkaitan dengan tahta, harta dan wanita—begitulah filosofi orang Jawa menyebutkan. Bila dalam Bahasa Rasululloh SAW adalah hubbuddunya wakarohiyatul maut  (cinta dunia dan takut mati). “Inilah fitnah yang sudah sangat luar biasa kehadirannya”, imbuhnya.

Kapankah fitnah Dajjal itu hadir? Kiayi yang berasal dari Demak ini menjelaskan, “Fitnah itu hadir dan bisa dilihat ketika terjadi pergantian kepemimpinan.”

Oleh karena itu Kiayi Ahmad Syafi’i Mufid berharap, “Marilah kita kuatkan Jakarta jangan sampai mau diadu domba, dan jangan pula mau diajak untuk berbuat kerusakan (fasad)”.

Kalau ada yang melanggar hukum, maka silahkan laporkan kepada bapak polisi. Kalau berkaitan dengan Pemilu Pilkada saya sudah tidak perlu lagi mengajarkan bebek berenang. Karena bapak-bapak sudah pasti memahaminya harus kemana pilihannya. Tapi kalau sampai terjadi berita seperti yang bapak Jajang sebutkan tadi, itu akan berakibat fatal.”

Diakhir ceramahnya, Ahmad Syafi’i Mufid mengajak kepada hadirin, “Mari kita bersama-sama memohon kepada Allah SWT bahwa negeri Jakarta menjadi negeri yang adil, makmur dan diridhoi oleh Allah SWT. Semua masyarakat Jakarta sehat lahir dan bathin. Tidak kekurangan sandang, pangan dan papan. Gemah ripah loh jinawi totok tentrem kerto raharjo.”

2

Hadir juga pada acara tersebut, Taufan Bakri dari Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Astamar dan H. Elisman Iljas anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta(fkub/Imshal/budi)

Sejarah Asal Mula Hari Raya Nyepi

indexOleh: I Gede Suparta, SH

Ketua Pinandita Se DKI Jakarta – PHDI

Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Sejarah Nyepi
Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.
Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Aji Saka
Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan, pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

048369700_1457417156-maxresdefault
Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka
Peringatan tahun Saka di Bali dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :
1. Upacara melasti, mekiyis dan melis
Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan
Di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur Agung/mecaru
Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).
Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).

4. Nyepi (Sipeng)
Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).

5. Ngembak Geni
Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga)

FKUB Jakarta Menyerahkan Rekomendasi Masjid Dan Gereja

S1670004

Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris FKUB Provinsi DKI Jakarta menyerahkan surat Rekomendasi pembangunan Gereja Yesus Sejati

FKUB-JAKARTA) Menjadi salah satu tugas pokok Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta memberikan surat rekomdasi kepada rumah ibadah sesuai dengan PBM nomor: 8/9 tahun 2006 dan Pergub no. 83 thn 2012 tentang Prosedur pemberian Persetujuan Pembangunan Rumah Ibadah.

Pada Kamis, (23/3/2017) FKUB Provinsi Jakarta menyerahkan surat rekomendasi pembangunan masjid Bab Al Rusydi –  Universitas Islam Jakarta yang beralamat di. Jl. Balai Rakyat Utan Kayu – Jakarta Timur  dan gereja Yesus Sejati beralama di Jl. Danau Asri Timur Blok C3 No. 5 Sunter Jaya – Jakarta Utara.

Penyerahan surat rekomendasi pendirian rumah ibadah dilakukan di kantor FKUB Jakarta, Gedung Graha Mental Spiritual lt. 4 Jl. Awaludin II Kebun Melati – Tanah Abang. Penyerahan rekomendasi dilakukan oleh H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB Provinsi DKI Jakata kepada pihak Masjid dan Gereja.

Pada sambutannya, H. Taufiq mengatakan, bahwa dari kelengkapan berkas yang diserahkan ke FKUB Provinsi, dan hasil dari verifikasi lapangan yang dilakukan FKUB Provinsi serta hasil Pleno FKUB Provinsi, maka sudah selayaknya surat rekomendasi ini diberikan.

Pemberian rekomendasi Masjid Bab AL Rusydi dan Gereja Yesus Sejati ini telah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan PBM no.8/9 thn 2006. Serta telah dilakukannya verifikasi lapangan guna mendengarkan testimoni tidak keberatan atau tidak menolak dengan rencana renovasi masjid dan gereja dari masyarakat sekitar rumah ibadah, tokoh masyarakat, RT,RW, Kelurahan, Kecamatan serta pihak keamanan.

Taufiq Rahman menyerahkan Surat Rekomendasi Pembangunan Masjid Bab Al Rusydi

Taufiq Rahman menyerahkan Surat Rekomendasi Pembangunan Masjid Bab Al Rusydi

Hal ini dilakukan, agar jangan sampai pembangunan rumah ibadah yang sudah berdiri mendapat penolakan dari masyarakat, pungkasnya.

Sematara itu, pihak masjid dan gereja mengucapkan banyak terima kasih atas rekomendasi yang diberikan oleh FKUB PRovinsi DKI Jakarta.(fkub/budi)

1 2 3 4 5 19