FKUB DKI Jakarta Menerima Kunjungan FKUB Kab. Karang Asem

Keterangan Foto, Ki-Ka, Gus Windu Kesbangpol Kab. Karang Asem, I Made Sugiarsa – Ketua FKUB Kab. Karang Asem, Ignatius Rudy Pratikno-Wakil Ketua FKUB DKI Jakarta dan H. Taufiq Rahman Azhar – Sekretaris FKUB DKI Jakarta

FKUB JAKARTA) FKUB Provinsi DKI Jakarta menerima kunjungan FKUB Kab. Karang Asem Provinsi Bali, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang – Jakarta Pusat, (19/7/2018).

Rombongan FKUB Kab. Karang Asem berjumlah Sembilan orang tiba di kantor FKUB Jakarta Pukul 11.00 dan diterima Wakil Ketua FKUB DKI Jakarta Ignatius Rudy Pratikno, H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB DKI Jakarta dan didampingi oleh Romo Antonius Suyadi, H. Aris  Banaji dan H. Qomarudin selaku anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta.

Dalam kesempatan itu  H. Taufiq menyampaikan permohonan maaf Ketua FKUB DKI Jakarta yang tidak bisa menemui rombongan FKUB Karang Asem dikarenakan ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, dan FKUB Provinsi DKI Jakarta tidak dapat menerima rombongan FKUB Kab. Karang Asem secara full tim dikarenakan ada kegiatan-kegiatan lain yang harus dihadiri oleh FKUB Jakarta.

“Kami lagi banyak kegiatan yang harus dihadiri, sehingga kami bagi-bagi tugas, ujar Taufiq Rahman”

Sementara itu Ketua FKUB Kab, Karang Asem I Made Sudiarsa, menyapaikan ucapan terima kasih atas sambutan pengurus FKUB DKI Jakarta sekaligus menyampaikan maksud dan tujuan berkunjung ke FKUB DKI Jakarta.

Maksud dan tujuan FKUB Kab. Karang Asem berkunjung ke FKUB DKI Jakarta selain ingin bersilaturahmi antar FKUB, sekaligus kami ingin menggali informasi tentang kerukunan di Provinsi DKI Jakarta karena Provinsi DKI Jakarta kami jadikan refsensi kami dalam pemeliharaan Kerukunan Antar Umat Beragama, lanjut Made.

“Provinsi DKI Jakarta itu sangat komplek, dari yang paling baik samapai yang paling krusial ada di Jakarta”

Kami ingin belajar dari FKUB DKI Jakarta, mungkin ada program-program yang bisa kami kembangkan di Kab. Karang Asem, pungkas Made.(fkub/budi)

Penyerahan Surat Rekomendasi Pembangunan Gereja Bethesda Jakarta Utara

(FKUB JAKARTA) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) PRovinsi DKI Jakarta menyerahkan surat rekomendasi renovasi pembangunan bagi rumah ibadah Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra Jakarta yang beralamat, Jl. Kramat Jaya, Gg. Pepaya, Kel.Semper, Kec. Cilincing – Jakarta Utara.

Penyerahan surat rekomendasi Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra diberikan oleh Sekretaris FKUB DKI Jakarta H. Taufiq Rahman Azhar kepada panitia pembangunan dikantor FKUB Jakarta pada hari Selasa, 17/7/2018.

Bangunan Gereja Bethesda GPIB Jemaat Petra dibangun pertama kali pada Hari Minggu, tanggal 22 Juni 1983, dan kini kondisi Gedung Gereja Bethesda sudah sangat memprihatinkan karena rangka atap gereja sudah lapuk sehingga terjadi kebocoran pada bagian atap, hampir seluruh kusen jendela dan pintu telah lapuk dimakan rayap dan kalau hujan lebat Gereja terendam banjir. Sehingga pengurus Gereja bermaksud merenovasi gereja guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga jemaat yang beribadah di Gedung Gereja Bethesda.

Berdasarkan surat permohonan rekomendasi dari Gereja Bethesda yang dikirimkan kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dengan dilampiri dokumen persyaratan dan  hasil kunjungan lapangan pengurus FKUB Jakarta kelokasi pembangunan pada tanggak, 3 Juli 2018 dengan mendengarkan kesaksian dari tokoh masyarakat, pihak keamanan maka sudah selayaknya Gereja Bethesda diberikan surat rekomendasi pembangunan renovasi dari FKUB DKI Jakarta untuk dipergunakan mengurus IMB kepada Gubernur DKI Jakarta.(fkub/budi)

Echa Abdullah: “Majelis Agama dan Ormas Keagamaan Memegang Peranan Penting dalam Mewujudkan Kerukunan Masyarakat Jakarta

KH. Echa Abdullah – Ketua Panitia sedang memberikan sambutan

(FKUB JAKATA) Sesuai ketentuan yang ada dalam Peratuan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No.9/8 thn 2006, FKUB Provinsi memiliki tugas pokok dan fungsi yaitu  Satu, melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat,  Kedua, menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat,  Ketiga, menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan gubernur; dan Keempat, melakukan sosialisasi peraturan perundangundangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat.

Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta dalam memenuhi ketentuan yang ada dalam PBM No.9/8 thn 2006 menyelengarakan kegiatan sosialisasi Peraturan Perundang-undangan serta Kebijakan tentang kerukunan dan pemberdayaan masyarakat dengan tema “Kita Wujudkan Jakarta Baru Yang Rukun dan Damai” dilaksanakan di Hotel Sentral yang beralamat di Jl. Raya Pramuka – Jakarta (5/7/2018).

Kegiatan Sosialisasi ini diikuti oleh perserta dari perwakilan majelis majelis agama, organisasi masyarakat keagamaan, aktivis wanita, KUB Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta dan anggota FKUB Provinsi DKI Jakarta yang semuanya berjumlah 60 orang.

Menurut Echa Abdullah selaku ketua panitia acara sosialisasi ini mengatakan, kegiatan ini kami khususkan untuk beberapa komponen di masyarakat DKI Jakarta, dan menurut petimbangan kami  justru yang memegang peranan penting dalam mewujudkan kerukunan masyarakat Jakarta yaitu majelis-majelis agama, pimpinan ormas keagamaan, aktivis wanita, FKUB dan KUB Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta.

Menurut kami ini sangat penting didalam kita memasuki usia Jakarta yang ke 491, diharapkan oleh kita, dan pemerintah agar Jakarta lebih maju, maju kotanya dan sejahtea rakyatnya dan para peserta ini yang memegang peranan penting dalam mewujudkan kerukunan masyarakat Jakarta, imbuhnya.

Echa juga berharap, melalui sosialisasi ini peserta bukan hanya nanti mampu menyerap apa yang disampaikan oleh para narasumber tetapi nanti mempu melaksanakan di ormas dan agama kita masing masing, sehingga akan ada sinergi kerjasama diantara kita bersama dan sama sama bekerja untuk bagaimana memberdayakan masyarakat  Jakarta ini khususnya Jamaah dan umat kita masing-masing, sehingga apa yang  kita harapkan yaitu terwujudnya Jakarta baru yang rukun dan damai bisa tercapai.

Echa menambahkan, semoga melalui sosialisasi ini mudah-mudahan setelah menyerap, bertemu, bersilaturahim, dan saling mengenal  maka keakraban diantara kita semakin kokoh, persaudaraan antara kita semakin dekat dan dengan demikian insya Allah kerjasama diantara kita akan makin meningkat dan apa yang diharapak pemerintah provinsi  “Jakarta lebih maju, maju kotanya dan sejahtea rakyatnya” dapat terwujud berkat kerjasam kita. Dan mudah-mudahan forum ini bisa dijadikan senjata kita dalam rangka membangun Jakarta ini lebih maju dan lebih baik, pungkas echa.

Kegiatan sosialisasi ini dibuka oleh Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta –KH. Ahmad Syafii Mufid sekaligus menjadi narsumber dengan materi “Peran Serta Masyarakat Dalam Membangun Dan Memelihara Kerukunan” dan narasumber kedua adalah H. Bahrul Hayat, P.hD dengan judul materi “Membangun Kerukunan Umat Beragama” (fkub/budi)

 

Iedul Fitri dan Toleransi

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh tanggal 1 Syawal menurut kalender Qomariyah tahun Hijriyah. Perayaan Idul Fitri berhubungan dengan selesainya puasa selama bulan Ramadhan dan telah ditunaikan zakat fitrah. Puncaknya, shalat Ied yang dilaksanakan di masjid-masjid atau di lapangan. Malam menjelang shalat Ied kumandang takbir dari masjid, mushola bahkan ada pawai takbir. Bagi kaum urban, mudik Iedul Fitri menjadi ritual sosial yang tak tergantikan. Pulang kampung. Ketemu orang tua, halal bi halal saling memaafkan dan mendoakan. Anak minta doa dan restu orang tua dan orang tua mendoakan anak-anak serta cucunya. Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, mereka ziarah kubur untuk mendoakan kebaikan bagi orang tuanya. Shalat Ied dan silaturrahmi itulah esensi perayaan hari raya Iedul Fitri.

Kata Ied berasal dari kata aada-yauudu yang berarti kembali. Sedangkan kata fitri berarti suci. Kata fitri juga berarti buka puasa berdasar dari kata ifthar-masdar afthara yufthiru. Selanjutya kata fitri berarti bersih, suci dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan, diambil dari pemahaman sebuah hadis “barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata mengharap ridho Allah maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu”  (HR.Muttafaq Alaih). Dari hadis inilah Iedul Fitri dimaknai kembali ke fitrah, suci seperti awal kejadian seorang bayi yang baru lahir tanpa dosa dan salah. Kegembiraan yang menyertai perayaan Iedul Fitri adalah mengagungkan nama Allah dengan takbiran di malam hari, awal bulan Syawal disetai memuliakan sesama manusia dengan berbagi (zakat). Zakat  disebar untuk orang fakir dan miskin dan mereka yang berhak menerima zakat lainnya. Zakat tidak boleh dibagikan kepada kafir dhimmi, sebagaimana mereka tidak boleh mengikuti shalat Iedul Fitri. Dalam ibadah dan berkeyakinan berlaku dalil “lakum dinukum waliyadin” bagimu agamamu dan bagiku agamaku ( Q.S. 109: 6). Tidak ada toleransi dalam ibadah dan keyakinan. Toletansi ada dalam ranah muamalah,  yang berhubungan dengan relasi sosial.

Perbedaan perayaan hari raya Islam (Iedul Fitri dan Iedul Adha) dengan perayaan hari raya yang lain adalah, tidak ada pesta pora, tidak ada tari-tarian, nyanyian dan mabuk. Sebelumnya, orang Arab sebelum Islam mengikuti perayaan hari raya Nairuz dan Mahrajan yang diwarisi dari tradisi kuno. Mereka mabuk, makan, menari dan menyanyi untuk melampiaskan kesenangan (Ensiklopedi Islam). Islam datang menggantikan dan memperbaiki tradisi yang tidak mengagungkan Tuhan dan memuliakan sesama manusia tersebut. Jadi, meskipun orang Islam bergembira dalam merayakan Iedul Fitri mereka tidak bebas berbuat apa saja. Ingat kepada Allah dan ingat kepada nasib orang-orang yang belum beruntung. Itulah makna Iedul Fitri yang diajarkan kepada kita dan kita alami selama ini.

Bagi umat beragama lain, ada ruang untuk ikut bersama-sama saudara muslim dalam merayakan seremonial. Ritual zakat, sholat Iedul Fitri dan mengumandangkan takbir di masjid hanya untuk orang Islam. Sedangkan seremonial yang melengkapi kebahagiaan Iedul Fitri adalah acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh warga bangsa sejak zaman me zaman. Konon acara ini bermula dari era kesultanan Surakarta. Sultan atau raja berkehendak meminta maaf kepada warga. Dikumpulkanlah para kawula di bangsal keraton. Raja serta permaisuri duduk di kursi singgasana kemudian punggawa satu persatu  melakukan “sungkeman” saling meminta maaf. Tradisi ini berlanjut hingga sekarang menjadi acara Halal bi Halal. Sebagai sebuah perayaan (seremoni) halal bi halal bukan upacara sakral (ritual). Halal bi halal terbuka untuk siapa saja. Semua penganut agama boleh melakukannya. Apakah dia sebagai pejabat atau atasan maupun sebagai bawahan. Halal bi halal memiliki makna silaturrahmi, mempererat persaudaraan dan keakraban. Saling memaafkan terhadap kekesalan dan kesalahpahaman.

Indonesia sebagai negara kebangsaan yang multikultural, silaturrahmi halal bi halal dapat menjadi pembelajaran toleransi. Pada acara ini kita mengetahui serta menghargai adanya pegawai.

 

PUAN AMAL HAYATI dan INTI Peduli dengan Kaum Pamulung, Tukang Ojek / Bajaj dan kaum Dhuafa

(FKUB Jakarta) Kepedulian terhadap kaum dhuafa dan orang yang kurang mampu ditunjukan Perhimpunan INTI dengan menyelengarakan kegiatan  Sahur bersama di lapangan RPTRA Kalijodo pada hari Selasa (12/6/2018)

Kegiatan Sahur bersama ini dilaksanakan PUAN  AMAL HAYATI bekerjasam dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) sebagai organisasi yang konsisten akan selalu mendukung setiap upaya yang memperjuangkan kepedulian, kebersamaan, persahabatan dan persaudaraan sesama warga bangsa tanpa terkecuali.

Menurut Liem Liliany Lontoh selaku ketua panitia pada saat diwawancarai mengatakan, kegiatan sahur bersama ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama warga bangsa, terutama dengan memberikan perhatian khusus kepada mereka yang kurang beruntung serta menyantuni kaum dhuafa yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar bisa bersahur/berbuka bersama.

Liliany menambahkan, bahwa sahur bersama ini dapat memberi penyadaran kepada kita semua tentang pentingnya menghormati, menjaga, merawat dan merayakan kebinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

“Menyadarkan kita semua bahwa perbedaan agama dan keyakinan tidak perlu membuat kita saling terasing satu sama lain, justru saling mempererat persaudaraan”.

Liliany yang juga sebagai ketua Sosial & CSR INTI menegaskan bahwa Sahur Bersama ini dapat melatih kerjasama berbagai komponen bangsa, melintasi semua sekat agama, budaya dan etnisitas.

Sahur bersama ini melibatkan Dua ribu peserta, dan dihadiri oleh Istri Presiden Indonesia Keempat Abdurahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid, Ketua Umum Ikatan Cendiakawan Muslim (ICMI) Jimly Asshiddiqie, Kombes Pol. Sambodo Purnomo selaku Dir Binmas Polda Metro Jaya, AKBP. Jajang Hasan Basri-kasubid Bintibluh Polda Metro Jaya, AKBP. Rachmat Sumekar-Kapolsek Penjaringan, H. Robby Nurhadi ketua umum Forum Kemitraan Religi Kamtibmas Polda Metro Jaya, serta turt hadir tokoh lintas agama dari MATAKIN, MUI, PHDI, PGIW Jakarta, Walubi, LDII, Muhammadiyah, Syarikat Islam, GOI, Harmoni Bahai, MLKI, dll

Ketua Umum INTI – Teddy Sugianto memberikan sambutan

Semantara itu Ketua Umum INTI – Teddy Sugianto dalam sambutannya mengatakan, sudah selayaknya bila setiap warga bangsa saling menghormati agama dan kepercayaan saudaranya, dan saling membantu selaras dengan nilai gotong-royong yang menjadi nilai luhur yang diwariskan generasi pendahulu.

INTI sadar, bila tak ingin didiskriminasi, INTI tidak hanya tidak boleh diskriminatif, melainkan juga harus konsisten mendukung setiap upaya serius bagi terwujudnya persaudaraan sejati.

Teddy Sugianto juga menjelaskan bahwa kelahiran INTI tidak bisa dilepaskan dari peran Gus Dur secara khusus dsn dukungan Nahdlatul Ulama secara umum. Oleh karenanya INTI berkomitmen ikut mendukung setiap kegiatan Keluaga Besar Gus Dur dan NU, selama sejalan dengan visi-misi INTI.

Pada kesempatan itu Sinta Nuriyah Wahid dalam sambutannya mengatakan, acara sahur bersama ini memberikan nilai kerukunan dan perdamaian. Sebab acara ini dihadiri oleh berbagai macam suku dan agama.

“Jadi dengan acara ini saya bersyukur. Kalau melihat acara seperti ini Indonesia itu dalam keadaan rukun dan damai dalam kehidupan yang damai bersama semuanya” kata Shinta.

Kegiatan Sahur Bersama dipandu oleh MC Indra Bekti, dan dihibur dengan penampilan Barongsay, Marawis, Paduan Suara serta ada penyerahan tiga buah kursi roda kepada tiga komunitas yaitu pemulung, tukang ojek dan dhuafa (fkub/budi)

 

 

FKUB Jakarta Menggelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Kaum Dhuafa

(FKUB JAKARTA) Moment bulan Ramadahan tahun ini dimanfaatkan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta untuk berbagi dengan kaum dhuafa diwilayah RW.017 Kel. Kebun Melati – Kec. Tanah Abang dengan menggelar acara Buka Puasa Bersama dan Santunan Kaum Dhuafa bertempat di RPTRA Bonti Tanah Abang pada hari Kamis,(7/6/2018).

Kegiatan Buka Puasa Bersama kali ini selain memberikan santunan kepada kaum dhuafa, tetapi sebagai ajang silaturhami pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta dengan masyarakat sekitar,  Lurah Kel. Kebun Melati dan tokoh masyarakat, serta kegiatan ini dimanfaatkan untuk mensosialisasikan tugas pokok dan fungsi FKUB Provinsi DKI Jakarta kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Rudy Pratikno selaku wakil ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta mengatakan, semoga kegiatan ini mempererat hubungan FKUB DKI Jakarta dengan masyarakat dan tokoh masyarakat Kelurahan Kebun Melati.

Sematara itu Lurah Kelurahan Kebun Melati dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara Buka Puasa Bersama dan santunan kaum dhuafa serta berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun.

Selanjutnya Lurah Kebun melati menjelaskan bahwa, kami menjalankan seruan Gubernur DKI Jakarta untuk menjaga lingkungan selama bulan Romadhan, karena Kelurahan Kebun Melati sering terjadi Tawuran.

Lurah Kebun Melati juga mengajak kepada orang tua supaya menjaga anak-anaknya agar tidak sahur keliling karena dapat memicu tawuran.

Selanjutnya kegiatan Buka Puasa Bersama dilanjutkan dengan penjelasan tentang Tugas Pokok dan Pungsi FKUB DKI Jakarta serta ceramah agama yang disampaikan oleh H. Taufiq Rahman Azhar selaku Sekretaris FKUB Jakarta.

Pada kesempatan itupula ada penyerahan tanaman secara simbolis dari FKUB Provinsi DKI Jakarta dan Lurah Kebon Melati kepada pengurus RPTRA Bonti.

“Semoga tanaman ini dapat bermanfaat untuk RPTRA Bonti dan masyarakat sekitar, kalau sudah berbuah mudah-mudahan kita bisa menikmati”.

Kegiatan Buka Puasa Bersama ini dihadiri oleh pengurus FKUB DKI Jakarta, Kanwil Agama Provinsi DKI Jakarta, KEsbangpol DKI Jakarta, Lurah Kel. Kebun Melati dan staf, LMK RW.017 dan masyarakat sekitar yang berjumlah 130 orang, pada kesempatan itu FKUB memberikan santunan untuk 34 orang kaum dhuafa.(fkub/budi)

 

 

 

FKUB DKI Jakarta: ”Upaya membangun Kerukunan Tahun 2018-2019: masalah dan solusinya”

Ket. foto dari ki-ka ( Kakanwil Kemenag Jakarta- H. Syaiful Mujab, Ketua FKUB Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid, Taufan Bakri – Kesbangpol Jakarta dan Rudy Pratikno)

(FKUB JAKARTA) Jakarta, sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia, tentunya harus menjaga kewaspadaan, sebagai meltingpot, Jakarta harus menampilkan kerukunan hidup beragama dalam kehidupan bermasyarakat. Bila keanekaragaman dan perbedaan itu tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin justru akan menimbulkan konflik.

FKUB Provinsi DKI Jakarta memandang perlu upaya selalu membangun kerukunan antar umat beragama, terutama pada tahun 2018-2019 adalah tahun politik perlu lebih intens melakukan upaya membangun kerukunan, karena dengan kerukunan umat beragama akan tercipta ketentraman dan kenyamanan, dan saat kerukunan itu terwujud maka persatuan bangsa akan terwujud, jika persatuan itu terwujud, maka menambah keamanan dan kekuatan negara.

Sehubungan dengan hal tersebut, FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan dialog antar tokoh agama dan Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan dengan tema ”Upaya membangun Kerukunan Tahun 2018-2019: masalah dan solusinya” bertempat di Kantor FKUB Jakarta di Graha Mental Spiritual lt.4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati – Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada hari senin 28/5/2018.

Kegiatan dialog diikuti oleh anggota FKUB DKI Jakarta, FKUB Kota se DKI Jakarta, para pimpinan dan utusan dari majelis agama antara lain: MUI Provinsi DKI Jakarta, PGIW Provinsi DKI Jakarta, Keuskupan Agung Jakarta, WALUBI Jakarta, MATAKIN Jakarta. Sebagai narasumber adalah Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta danKepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Povinsi DKI Jakarta.

Kegiatan dialog ini bertujuan menerima masukan dan saran dari para  tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan dan FKUB wilayah kota se DKI Jakarta dalam menghadapi situasi terkini dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Jakarta dan dalam rangka menyusun program kerja FKUB DKI Jakarta tahun 2019.(fkub/budi)

 

Pernyataan Sikap FKUB DKI Jakarta atas Aksi Bom Bunuh diri di Surabaya

Ketua FKUB DKI Jakarta – KH. Ahmad Syafii Mufid didampingi para pimpinan majelis-majelis agama

(FKUB JAKARTA) Menyikapi aksi bom bunuh diri yang terjadi pada hari minggu 13/5/2018 di Tiga gereja di Surabaya yaitu gereja Santa Maria Takbercela, gereja Pantakosta dan  GKI Jl. Diponegoro.

Forum Kerukunan Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta bersama pimpinan majelis-majelis agama dan organisasi sosial keagamaan melakukan pernyataan sikap mengutuk tindakan bom bunuh diri yang menimpa tiga gereja di Surabaya. Kegiatan pernyataan sikap dilakukan di Hotel Sentral Jl. Pramuka Raya – Jakarta Pusat (14/5/2018).

Isi Pernyataan Sikap FKUB Provinsi DKI Jakarta dan tokoh agama serta organisasi kemasyarakatan antara lain:

  1. Sangat menyesalkan dan mengutuk keras segala macam bentuk tindakan kekerasan dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan apapun motifnya karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama manapun.
  2. Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada semua korban kekerasan dan tindak terorisme yang menimpa beberapa gereja di Surabaya. Semoga semua keluarga korban diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan;
  3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat, tepat sampai tuntas segala gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut untuk menyelesaikan msalah kekerasan dan terorisme dengan seksama, menyeluruh dan berkesinambungan tidak parsial serta sporadis;
  4. Menghimbau seluruh tokohg agama, tokoh masyarakat, elit politik dan masyarakat untuk menghindarkan komentar komentar yang akan memperkeruh keadaan. “Jangan issue peristiwa terorisme ini untuk kepentingan politik yang sesaat”. Saling mencurigai kelompok agama satu sama lain yang menghancurkan kerukunan dan persatuan bangsa.
  5. FKUB PROVINSI DKI JAKARTA menghimbau seluruh masyarakat umat beragama tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjwab. Masyarkat hendaknya tidak berspekulasi dan mengaitkan pemboman dengan peristiwa politik dan kelompok agama tertentu agar situasi tetap kondusif dan harmonis.

Pernyataan sikap di tanda tangani oleh ketua dan sekretaris FKUB DKI Jakarta, pimpinan majelis-majelis agama dan perwakilan dari dua puluh satu organisasi sosial keagamaan, yaitu: PW NU DKI Jakarta, PW Muhamadiyah DKI Jakarta, PW Al Washliyah DKI Jakarta, DPW LDII DKI Jakarta, Fatayat NU, Mathla’ul Anwar, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, DPW Syarikat Islam DKI Jakarta, PW Aisyiyah, PW NA, PITI DKI Jakarta, Himpunan Bina mualaf Indonesia DKI Jakarta, Forum Komunikasi Majelis Taklim (FKMT), PERTI, Muslimat NU, Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, DPW BKPRMI DKI Jakarta, JPPRMI, PW PGLII DKI Jakarta, PGPI DKI Jakarta, GMAHK DKI Jakarta, LP Ma’arif NU DKI Jakarta.

Kegiatan Pernyataan Sikap tersebut juga disaksikan oleh anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP Gembong Warsono, S.IP., MM, Badan Kesbangpol DKI Jakarta dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. (fkub/budi?

 

KH. Ahmad Syafii Mufid: “Kata Siapa Jakarta Tidak Toleransi”

KH. Ahmad Syafii Mufid- Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

(FKUB JAKARTA) Kehidupan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta selama ini berlangsung  rukun, tanpa gangguan yang berarti. Warga kota Jakarta meskipun berbeda-beda agamanya, mampu hidup dengan rukun dan toleran.

Demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Ahmad Syafi’i Mufid pada saat  menerima kunjungan dari Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Minahasa Selatan, di kantor FKUB Provinsi DKI Jakarta, Graha Mental Spiritual, Lt.4 – Jl. Awaludin II, Kebun Melati-Tanah Abang- Jakarta Pusat (23/4/2018).

Syafi’i menjelaskan, bahwa fakta tersebut sekaligus membantah banyaknya informasi yang menyatakan bahwa toleransi umat beragama di DKI Jakarta jauh dari kata rukun. Bahkan ada yang menyatakan bahwa tingkat toleransi di DKI Jakarta  paling rendah daripada provinsi lainnya,”

Syafii menambahkan, bahwa di Jakarta memilik potensi konfliknya sangat tinggi, akan tetapi konflik di Jakarta itu bukan konflik agama tetapi persoalannya spasial, itu sesuai dengan hasil penelitian antropolg dari Prancis yang bernama Jeremy Teddy, beliau katakan bahwa selama tiga tahun di Jakarta, Jakarta itu selalu terjadi konflik terkait spacial.

 “ Terjadinya tawuran-tawuran, koflik itu terjadi karena rebutan ruang, dari mulai kampung sana dengan kampung sini sampi dengan yang sekampung, dan itu terus mengejala sampai ke sekolah”.

Jakarta itu semenjak bernama Batavia, masyarakat di Jakarta  itu sudah bermacam-macam  agama, macam suku tetapi bisa rukun menjadi satu.

Menurut Syafii, selain masalah spasial, konflik di Jakarta itu timbul karena ada persoalan-persoalan politik. Contoh kasus tanjung Priok, kasus kuda tuli, kasus mei 1998.

“ Hal ini yang dikwatirkan, kasus seperti ini berkembang di Jakarta yang nyangkut – nyangkut agama”.

Kalau terkait dengan Pilkada memang itu ada suara miring, akan tetapi tidak terjadi apa-apa yang berarti disini, karena kita tidak melihat perbedaan agama, tidak melihat perbedaan suku, apalagi dominasi mayoritas terhadap minoritas, buat kami tidak berlaku.

Sedangkan yang terkait pendirian rumah ibadat, sesuai tupoksi FKUB DKI Jakarta yaitu mengeluarkan rekomendasi untuk pendirian rumah ibadat di Provinsi DKI Jakarta, selama ini rumah ibadat yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari FKUB DKI Jakarta adalah rumah ibadat Kristen.

“Kalau melihat kondisi ini, apa yang kurang dari jakarta?, bagaimana bisa dikatakan masyarakat Jakarta jauh dari kata rukun dan toleransi”.

FKUB DKI Jakarta mengambangkan apa yang dinamakan kader-kader kerukunan melalui sekolah Agama-agama dan Bina Damai (SABDA). Seluruh agama kita libatkan, bahkan aliran kepercayaan, agama Baha’i, Ahmadiyah, dan aliran keras juga ikut, jadi bukan hanya agama yang mainstream saja yang kita libatkan, mereka kami ajak semua untuk berpikir bagaimana membangun Jakarta Aman- Jakarta Damai.

Saya teringat oleh Filosof besar yaitu Hans Kung beliau mengatakan tentang Global etik, didunia itu perlu adanya etika yang disepakti bersama.

“Dunia ini tidak akan damai kalau tidak ada dialog antar umat beragama, jadi dialog antar umat beragama itu menjadi kata kunci”.

Saat ini, FKUB DKI Jakarta sudah diajak menjadi bagian Global Peace Foundation untuk kampanye damai untuk seluruh dunia, tandas Syafii Mufid.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

FKUB Kab. Minahasa Selatan Belajar Kerukunan Antar Umat Beragama Ke Jakarta

Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka,

(FKUB-JAKARTA) FKUB Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara berkunjung ke Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta (23/4/2018).

Menurut Ketua FKUB Kab. Minahasa Minahasa Selatan-Pdt. Luky Tumbelaka, kunjungan kami ke FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam rangka ingin belajar kepada FKUB Provinsi DKI Jakarta dalam mengelola kerukunan antar umat beragama di Provinsi DKI Jakarta.

“Jakarta adalah sebagai barometer nasional dalam segala hal, termasuk dalam menjaga kerukunan antar umat beragama”

Berbagai kondisi yang terjadi dari waktu ke waktu dan begitu cepat berubah sehingga itu yang membuat kami tertarik untuk berkunjung ke Jakarta, lanjutnya.

Selanjutnya Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan – Ketua FKUB Kab. Minahasa Selatan -Pdt. Luky Tumbelaka menambahkan, selain masalah isu kerukunan umat beragama kami ingin belajar banyak mengenai pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan secara serentak, dan FKUB DKI Jakarta memiliki pengalaman masalah itu.

“FKUB Jakarta sukses dalam menghadapi Pilgub tahun 2017 sehingga tidak terjadi konflik yang sehingga Pilgub Provinsi DKI Jakarta dapat berjalan lancar, aman dan damai” tandasnya.

Rombongan FKUB Kab. Minahasa Selatan berjumlah Dua Puluh Delapan orang, terdiri dari: Bupati Kab. Minahasa Selatan, Kakanwil Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kapolres Kab. Minahasa Selatan dan anggota FKUB Kab. Minahasa Selatan.

Rombongan diterima dikanator FKUB DKI Jakarta beralamat Graha Mental Spiritual Lt. 4, Jl. Awaludin II, Kebun Melati, Tanah Abang- Jakarta Pusat, diterima oleh Ketua FKUB DKI Jakarta beserta jajarannya, hadirpula Kakanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Syaiful Muzab dan perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi DKI Jakarta- H. Ridwan Rusli.(fkub/budi)

1 2 3 19