Iedul Fitri dan Toleransi

KH. Ahmad Syafii Mufid – Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh tanggal 1 Syawal menurut kalender Qomariyah tahun Hijriyah. Perayaan Idul Fitri berhubungan dengan selesainya puasa selama bulan Ramadhan dan telah ditunaikan zakat fitrah. Puncaknya, shalat Ied yang dilaksanakan di masjid-masjid atau di lapangan. Malam menjelang shalat Ied kumandang takbir dari masjid, mushola bahkan ada pawai takbir. Bagi kaum urban, mudik Iedul Fitri menjadi ritual sosial yang tak tergantikan. Pulang kampung. Ketemu orang tua, halal bi halal saling memaafkan dan mendoakan. Anak minta doa dan restu orang tua dan orang tua mendoakan anak-anak serta cucunya. Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, mereka ziarah kubur untuk mendoakan kebaikan bagi orang tuanya. Shalat Ied dan silaturrahmi itulah esensi perayaan hari raya Iedul Fitri.

Kata Ied berasal dari kata aada-yauudu yang berarti kembali. Sedangkan kata fitri berarti suci. Kata fitri juga berarti buka puasa berdasar dari kata ifthar-masdar afthara yufthiru. Selanjutya kata fitri berarti bersih, suci dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan, diambil dari pemahaman sebuah hadis “barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata mengharap ridho Allah maka diampuni dosa-dosa yang telah lalu”  (HR.Muttafaq Alaih). Dari hadis inilah Iedul Fitri dimaknai kembali ke fitrah, suci seperti awal kejadian seorang bayi yang baru lahir tanpa dosa dan salah. Kegembiraan yang menyertai perayaan Iedul Fitri adalah mengagungkan nama Allah dengan takbiran di malam hari, awal bulan Syawal disetai memuliakan sesama manusia dengan berbagi (zakat). Zakat  disebar untuk orang fakir dan miskin dan mereka yang berhak menerima zakat lainnya. Zakat tidak boleh dibagikan kepada kafir dhimmi, sebagaimana mereka tidak boleh mengikuti shalat Iedul Fitri. Dalam ibadah dan berkeyakinan berlaku dalil “lakum dinukum waliyadin” bagimu agamamu dan bagiku agamaku ( Q.S. 109: 6). Tidak ada toleransi dalam ibadah dan keyakinan. Toletansi ada dalam ranah muamalah,  yang berhubungan dengan relasi sosial.

Perbedaan perayaan hari raya Islam (Iedul Fitri dan Iedul Adha) dengan perayaan hari raya yang lain adalah, tidak ada pesta pora, tidak ada tari-tarian, nyanyian dan mabuk. Sebelumnya, orang Arab sebelum Islam mengikuti perayaan hari raya Nairuz dan Mahrajan yang diwarisi dari tradisi kuno. Mereka mabuk, makan, menari dan menyanyi untuk melampiaskan kesenangan (Ensiklopedi Islam). Islam datang menggantikan dan memperbaiki tradisi yang tidak mengagungkan Tuhan dan memuliakan sesama manusia tersebut. Jadi, meskipun orang Islam bergembira dalam merayakan Iedul Fitri mereka tidak bebas berbuat apa saja. Ingat kepada Allah dan ingat kepada nasib orang-orang yang belum beruntung. Itulah makna Iedul Fitri yang diajarkan kepada kita dan kita alami selama ini.

Bagi umat beragama lain, ada ruang untuk ikut bersama-sama saudara muslim dalam merayakan seremonial. Ritual zakat, sholat Iedul Fitri dan mengumandangkan takbir di masjid hanya untuk orang Islam. Sedangkan seremonial yang melengkapi kebahagiaan Iedul Fitri adalah acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh warga bangsa sejak zaman me zaman. Konon acara ini bermula dari era kesultanan Surakarta. Sultan atau raja berkehendak meminta maaf kepada warga. Dikumpulkanlah para kawula di bangsal keraton. Raja serta permaisuri duduk di kursi singgasana kemudian punggawa satu persatu  melakukan “sungkeman” saling meminta maaf. Tradisi ini berlanjut hingga sekarang menjadi acara Halal bi Halal. Sebagai sebuah perayaan (seremoni) halal bi halal bukan upacara sakral (ritual). Halal bi halal terbuka untuk siapa saja. Semua penganut agama boleh melakukannya. Apakah dia sebagai pejabat atau atasan maupun sebagai bawahan. Halal bi halal memiliki makna silaturrahmi, mempererat persaudaraan dan keakraban. Saling memaafkan terhadap kekesalan dan kesalahpahaman.

Indonesia sebagai negara kebangsaan yang multikultural, silaturrahmi halal bi halal dapat menjadi pembelajaran toleransi. Pada acara ini kita mengetahui serta menghargai adanya pegawai.

 

Perayaan Paskah 2018 dalam konteks Kerukunan

Baru saja  umat Katolik  dan Kristen merayakan Hari Raya Paskah dan perayaan Paskah ini  merupakan perayaan keagamaan   terbesar  dan merupakan peristiwa  yang penting bagi umat Katolik dan Kristen diseluruh penjuru dunia. .Perayaan  Paskah  merupakan rangkaian perayaan di dalam   satu pekan yang dissebut sebagai Pekan Suci . Pada sepanjang minggu ini umat Katolik dan Kristen memasuki Pekan Suci atau Holy Week dan bersuka-cita menyambut perayaan Tri Hari Suci Paskah.

Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen, yakni merayakan hari kebangkitan Yesus.

Paskah biasanya dimulai dari Rabu Abu, Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, sampai perayaan puncak yakni, Minggu Paskah.

Dari beberapa event ini, ada tiga yang terjadi di pekan suci, yakni minggu terakhir sebelum Paskah.

Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru.

Pekan Suci dimulai dari Minggu Palem atau “Passion Sunday”, yang pada tahun 2018 ini dirayakan pada hari Minggu tanggal 25 Maret. Pekan Suci tersebut dimulai dengan perayaan Minggu Palem yang bermakna sukacita dan harapan, yang merefleksikan kisah perjalanan Yesus ke kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai dan disambut oleh warga kota dengan lambaian daun palem bagai seorang raja yang datang memasuki ibukota kerajaannya dan disambut oleh rakyatnya dengan penuh sukacita.

Perayaan Hari Kamis Putih  bermakna Kasih dan Pelayanan  didasarkan atas refleksi cinta kasih yang sejati dari Yesus, tahun ini  jatuh pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2018, yang direfleksikan dalam  kisah Yesus membasuh atau mencuci kaki dari 12 (dua belas) muridNya bagai  seorang hamba dan pelayan yang mencuci kaki tuannya, dan dilanjutkan dengan acara “Perjamuan Terakhir” atau makan malam terakhir dari Yesus bersama murid-muridNya. Dimana Yesus mengambil roti tidak beragi kemudian memecah-mecah roti tersebut dan membagikannya kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari tubuh Yesus yang tidak berdosa, namun harus dikorbankan untuk menebus dosa umat manusia. Kemudian Yesus menuangkan anggur kedalam cawan untuk dibagikan kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari darah Yesus yang harus dicurahkan untuk menebus dosa umat manusia.

Setelah itu pada hari Jumat tanggal 30 Maret 2018  masuk kedalam perayaan Jumat Agung atau “Good Friday” yang bermakna penderitaan dan pengorbanan, yang merefleksikan kisah Yesus yang dihadapkan dalam pengadilan yang penuh dengan konflik dan intrik atas tuduhan yang penuh rekayasa. Bagai seorang penjahat kriminal yang menjadi sampah masyarakat dan pemberontak yang menjadi musuh negara, Yesus harus menderita dengan siksaan badani sebelum akhirnya harus menjalani hukuman mati dengan cara disalibkan bersama para penjahat di sisi kiri dan kanan salib Yesus.

Kemudian pada sepanjang hari Sabat, hari yang disucikan Tuhan bagi umat manusia untuk beristirahat dan mengingat Sang Khalik Langit dan Bumi, sejak pembukaan Sabat pada hari Jumat petang sampai dengan penutupan Sabat pada hari Sabtu petang, Yesus pun beristirahat didalam perut bumi.

Setelah mengalami penderitaan dan menyerahkan nyawaNya di kayu salib, tubuh Yesus pun diturunkan dan dilepaskan dari kayu salib untuk dibersihkan dan dikuburkan kedalam gua yang dijaga oleh para prajurit Romawi.

Akhirnya pada hari Minggu pagi, Yesus pun bangkit dari antara orang mati dan meninggalkan kubur yang kosong. Umat Katolik dan Kristen merayakan peristiwa tersebut melalui perayaan Minggu Paskah atau Easter Sunday yang bermakna kemenangan dan harapan, yang jatuh pada hari Minggu tanggal 31 Maret 2018..

Makna kemenangan itu direfleksikan dengan kemenangan dari Yesus dalam mengalahkan alam maut yaitu bangkit dari kematian, sedangkan makna harapan direfleksikan dengan adanya harapan terhadap kedatangan Yesus yang kedua kali untuk menyelamatkan umatNya. Bagai seorang mempelai pengantin pria yang akan menjemput mempelai pengantin wanitanya untuk masuk dalam jamuan pesta pernikahan. Yesus akan datang kembali ke dunia ini bagai seorang raja yang akan menjemput umatNya untuk tinggal di kerajaan Sorga yang kekal.

Hidup dan kehidupan dari Yesus selama di dunia telah menjadi inspirasi, teladan dan panutan dari umat Katolik dan Kristen di sepanjang masa serta menjadi dasar keimanan dari Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan. Semoga makna dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus, yang diperingati dalam Pekan Suci sepanjang minggu ini termasuk Tri Hari Suci Paskah dapat memberikan sebuah refleksi dan introspeksi pribadi bagi seluruh umat Katolik dan Kristen di dunia untuk dapat menjadi pribadi seperti Yesus yang penuh cinta kasih, yang melayani bagai seorang hamba, yang penuh pengorbanan, yang memberikan harapan dan kemenangan. “Selamat Hari Raya Paskah tahun 2018 kepada umat Katolik dan Kristen “

Umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta

Umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta  dalam menghayati  dan mengaktualisasikan iman nya selalu mengacu pada Arah Dasar Pastoral yang telah ditetapkan oleh Bapak Uskup  Agung Jakarta sebagai gembala umat dan untuk periode 2016 sanpai dengan 2020 adalah sebagai berikut :

Gereja Keuskupan Agung Jakarta sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah bercita-cita menjadi pembawa sukacita Injili dalam mewujudkan Kerajaan Allah yang Maha Rahim dengan mengamalkan Pancasila demi keselamatan manusia dan keutuhan ciptaan.

Atas dorongan Roh Kudus, berlandaskan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus, serta semangat Gembala Baik dan Murah Hati, umat Keuskupan Agung Jakarta berupaya menyelenggarakan tata-pelayanan pastoral-evangelisasi agar semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif, dan berbelarasa terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Melalui tata-pelayanan pastoral-evangelisasi yang sinergis, dialogis, partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkomitmen untuk:

  1. Mengembangkan pastoral keluarga yang utuh dan terpadu.
  2. Meningkatkan kualitas pelayan pastoral dan kader awam.
  3. Meningkatkan katekese dan liturgi yang hidup dan memerdekakan.
  4. Meningkatkan belarasa melalui dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang adil, toleran dan manusiawi khususnya untuk mereka yang miskin, menderita dan tersisih.
  5. Meningkatkan keterlibatan umat dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Semoga Allah Yang Maha Rahim, yang telah memulai pekerjaan baik dalam diri kita, berkenan menyempurnakannya dan Bunda Maria menyertai, menuntun serta meneguhkan upaya-upaya kita.

Penyebutan kata  Pancasila dalam Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta.

Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta tersebut  secara eksplisit Pancasila disebut didalamnya,  hal ini diyakini bahwa Nilai-nilai Pancasila dan perwujudan Kerajaan Allah tidak bertentangan. Melainkan dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila keindonesiaan kita makin ditingkatkan dan tidak hilang. Dengan demikian kita akan menjadi mampu mewujudkan gereja katolik Indonesia. Adapun Tahapan pengamalan Pancasila dari Keuskupan Agung Jakarta adalah sebagai berikut :

Tahun 2016 Temanya adalah Kerahiman Allah Yang memerdekakan ,  umat Katolik  diajak untuk lebih memahami arti kerahiman Allah. Tema ini selaras dengan Sila Pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.

Tahun 2017 adalah “Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab”    untuk menyelami sila kedua guna  merenungkan apakah keadilan sudah dinikmati oleh segenap masyarakat Indonesia. Tema ini menunjukkan dan menumbuhkan sikap makin adil dan makin beradab pada sesama sebagai bagian dari upaya mengamalkan Pancasila dengan iman yang teguh

tahun 2018 temanya adalah Amalkan Pancasila, Kita Bhinneka, Kita Indonesia yang selaras dengan sila ke 3 . Persatuan Indonesia.

Perayaan Paskah tahun 2018 dalam konteks Persatuan Indonesia

Jadi jelas bahwa Perayaan Paskah merupakan perayaan  sebagai ungkapan sukacita umat manusia karena telah ditebus dosanya  oleh Yesus Kristus Tuhan dengan melalui  penderitaan sampai kematianNya di kayu salib, namun tiga hari kemudian Yesus telah bangkit  mengalahkan maut.   Untuk  itu agar kita pantas untuk ditebus dosa nya diperlukan masa persiapan masa Pra Paskah  yang di awali  pada hari Rabu Abu 14 Februari 2018 sampai hari perayaan Paskah 31 Maret 2018;

Diharapkan bahwa dalam masa Prapaskah Paskah tahun 2018   umat Katolik  didorong untuk bertobat lebih membuka hati kepada Tuhan yang selalu menyertai, membimbing serta menguatkan kita sebagai manusia, dalam masa ini umat diajak untuk semakin peduli kepada sesama khususnya yang menderita , seperti yang dicontohkan oleh Yesus ,  dengan begitu  iman kita tidak mati , itulah makna pertobatan kita..

Pada tahun 2018 ini Gereja Keuskupan Agung Jakarta menjalani Tahun Persatuan dengan seboyan “ Amalkan Pancasila ; Kita Bhineka , Kita Indonesia , bapak Uskup mengharapkan agar Umat Gereja memaknai pengalaman hidup dalam konteks persatuan dan kebhinekaan  bangsa kita sebagai Karya Allah . maka sebaiknya kita mensyukuri karena Tuhan memberikan anugerah pengalaman  keragaman berbangsa yang nampak dalam jumlah pulau  yang kita miliki yakni  sebanyak  17.504 pulau  1340 suku bangsa dan 546 bahasa, meskipun demikian beragam itu adalah merupakan bagian dalam satu nusa , satu bangsa dan satu bahasa  dengan  Pancasila bagai dasar negara. Dengan demikian sebagai bangsa yang beragam kita mempunyia cita – cita yang sama , yaitu mewujudkan negara yang berketuhanan, adil dan beradab , bersatu , berhikmat dan bijakasana serta damai sejahtera.

Disisi lain Gereja juga mengungkapkan keprihatinan karena melihat berbagai peristiwa yang menjauhkan masyarakat kita dari cita-cita sebagai bangsa  khususnya dengan cita-cita Persatuan Indonesia karena masih banyak didepan kita bahwa perbedaan yang seharusnya menjadi Rahmat ,sering kali justru kelihatan sebagai penghambat , salah satu penelitian dari Wahid Foundation yang bekerjasama dengan Lembaga survei Indonesia  di April 2016 menunjukan bahwa 59,9% dari responden yang diminta tanggapanya memiliki kelompok yang dibenci, apabila memang demikian bukan persatuan  dalam kebhinekaan yang tumbuh, tetapi kebencian menjadi wajah masayarakat , dan masih banyak berbagai penelitian lain  yang mana  angka-angka menunjukan ada sesuatu yang tidak baik dan tidak ideal dalam hidup kita sebagai bangsa.

Karena itulah umat  Gereja Katolik dituntut untuk peduli  dengan terus menerus  berusaha mengamalkan Pancasila dengan cara mengubah tantangan-tantangan menjadi kesempatan untuk mewujudkan iman dengan melakukan gerakan nyata , mulai dari yang paling sederhana yakni mensyukuri kebhinekaan , merawat  dan menumbuh kembangkan sehingga kehadiran  Kerajaan Allah , kerajaan kebenaran , keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera hadir di tengah masyarakat kita, Indonesia.

Oleh karenanya banyak kegiatan umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta  seperti mengumandangkan  lagu “ Kita Bhineka – Kita Indonesia dimana mana , mendaraskan doa Tahun Persatuan dalam ibadat harian maupun mingguan digereja , ikut menginisiasi adanaya kenduri di paroki , ikut membantu  puasa bersama, melakukan piknik kebangsaan dengan mengunjungi  tempat bersejarah nasional dll

Banyak pula kegiatan sesuai kebutuhan setempat   berusaha mempererat persaudaraaan dalam masyarakat tanpa membedakan perbedasan agama , suku , etnis dan perbedaan pperbedaan yang lain yang dilakukan mulai dari lingkup RT/RW secara berkesinambungan dan saling terkait  . Buah2 dari perjumpaan dalam nafas kehidupan bermasyarakat ini diharapkan menumbuhkan wujud kebiasaan baik dan budaya yang baru, yang pada gilirannya  membuahkan damai sejahtera yang merupakan wajah dari Kerajaan Allah yang damai sejahtera.

Dengan demikian diri kita menjadi pantas dalam merayakan Paskah, perayaan suka cita Kebangkitan Kristus  ditahun 2018 ini .

Selamat Paskah 2018

Yohanes Haryono Darudono

Sejarah Asal Mula Hari Raya Nyepi

indexOleh: I Gede Suparta, SH

Ketua Pinandita Se DKI Jakarta – PHDI

Nyepi berasal dari kata sepi yang artinya sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. kemudian Hari Raya Nyepi adalah Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi (tiap 1 januari), Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Sejarah Nyepi
Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.

Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi.
Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.

Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampai ke Indonesia.

Aji Saka
Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, juga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan, pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.

048369700_1457417156-maxresdefault
Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka
Peringatan tahun Saka di Bali dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :
1. Upacara melasti, mekiyis dan melis
Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan
Di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur Agung/mecaru
Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).
Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).

4. Nyepi (Sipeng)
Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).

5. Ngembak Geni
Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga)

Hari Raya Nyepi

Nyepi 2014

Hari raya Nyepi dan hari-hari raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyavdaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwanya.

Secara tattwa sesungguhnya Dewa dan Kala itu bersemayam pula pada diri kita. Sifat-sifat lembut, tenang, pengasih, dan sebagainya adalah sifat-sifat dewa. Sebaliknya sifat-sifat keras, bengis kejam dan sebagainyaadalah sifat-sifat Kala. Kala harus diteduhkan sehingga yang hadir dalam diri adalah sifat-sifat kedewataan. Setelah alam suci, Kala teduh, maka timbulah kesepian yang berakibat ketenangan, yang diperoleh dengan mendiamkan diri. Umat Hindu mempunyai hari khusus untuk mendiamkan diri, itulah hari raya Nyepi. Pada hari ini seluruh aktivitas kerja dihentikan.

Pelaksanaan Nyepi bersesuaian dengan ajaran Yoga. Yoga mengajarkan mendiamkan gerak-geraknya pikiran yang selalu berkeliaran kemana-mana “Citta vṛtti nirodhah”. Dengan mendiamkan gerak-geraknya pikiran, maka Sang Diri akan berada pada dirinya. Pada saat-saat lain, saat melakukan kegiatan sehari-hari, Sang Diri berada diluar dirinya. Ia menyamakan dirinya dengan obyek-obyek indriya. Ia selalu gelisah, diliputi debu dan kerasnya dunia. Dalam suasana kegelisahan, maka mudahlah kita mengusai diri kita. Maka dari itu patutlah sewaktu-waktu kita mendiamkan diri agar pikiran kita menjadi jernih dan tenang untuk mendapatkan tenaga baru dalam melanjutkan tugas-tugas kita.

Nyepi sebagai  hari penemuan Sang Diri, hal ini akan dapat diwujudkan bila kita benar-benar memiliki dan mengamalkan ajaran śraddhā dengan mantap dan bhakti yang tulus kepadaNya. Dalam suasana hening, ketika perut kosong, emosi, ambisi dan nafsu terkendali, pikiran diarahkan hanya untuk memuja dan merenungkan keagunganNya, seperti diamanatkan dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Tothaka) sebagai berikut :

“Śasi wimba haneng ghaṭa mesi bañu, Ndanasing śuci nirmala mesi wulan, Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, Ringangambêki yoga kiteng sakala”.

Terjemahannya :

Sebagai bayangan bulan yang ada di dalam sebuah belanga yang berisi air, Yang setiap belanga yang airnya bersih (tanpa kotoran) berisi bayangan bulan, Seperti itulah sesungguhnya Eangkau, kepada orang yang sedang melakukan yoga Engkau dalam keadaan yang tampak.

“Katêmunta mareka si tan katêmu,Kaihidêpta mareka si tan kahidêp, Kawênangta mareka si tan kawênang, Paramārtha Śiwatwa nirāwarana”.

Terjemahannya :

Diketahuilah oleh seorang yang tidak pernah ketemukan, dapat dipikirkan oleh  seorang yang tidak pernah dipikirkannya, dapat dikuasai oleh seorang yang tidak pernah dikuasainya, kebenaran ajaran Śiwa yang amat suci tampak tidak terselubung lagi.

Dalam berbagai agama maupun tradisi spiritual terdapat ajaran tentang puasa yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh pengikut suatu ajaran. Secara umum tampaknya kegiatan upawasa ini ditujukan kepada suatu pencapaian sebuah peningkatan rohani, karena melalui puasa orang belajar untuk memurnikan pikirannya.

Jika pikiran semakin murni, maka anasir-anasir rangsangan panca indra yang setiap hari dominan dalam mengendalikan persepsi bisa ditekan. Akhirnya puasa memberikan kejernihan pikiran untuk menyusun persepsinya, sehingga kualitas ucapan dan tindakan pun semakin baik. Kalau sudah demikian tentu yang dihasilkan adalah karma-karma baik.

Intisari tapa brata atau puasa adalah pengendalian atau pembatasan atas dua hal yaitu pikiran dan indra-indra. Indra jumlahnya ada lima yang disebut Panca Indra. Indra mempunyai alat indra yang juga berjumlah lima yang disebut Panca Karmendriya, dan mempunyai obyek indra yang disebut Panca Tanmatra.

Kelima indra itu harus dikendalikan. Kunci untuk bisa mengendalikan indra adalah pengendalian atas pikiran. Pikiran mempunyai jangkauan yang tak terbatas, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, tajamnya melebihi ketajaman pedang. Kalau bisa mengendalikan pikiran kelima indra juga mudah untuk ditundukkan. Cara mengendalikan pikiran pertama pikiran harus dibersihkan dengan cara membaca atau melantunkan mantra-mantra atau sloka-sloka Veda, dan meditasi.

Dalam Kakawin Nirārtha Prakěrta ditegaskan sebagai berikut :

“Ri haneng rikanang amběk tibra alit mahěning aho,lěngit atisayasnya jñānanasraya wěkasan, swayeng umibêki tan ring rāt mwang deha tuduhana, ri pangawakira sang hyang tattwādhyātmika katêmu”.

Terjemahannya:

Ketika pikiran telah tenang halus suci, akhirnya menemui kebebasan dan hening, lalu dengan serta merta meliputi seluruh jagat, serta tidak terlukiskan lagi, akhirnya ia bersatu dengan Sang Hyang Tattwādhyātmika (kebenaran sejati).

Oleh: Prof. Dr. Surada – Anggota SABHA WALAKA PHDI PUSAT

Catatan Dari Konvensi Global Peace di Manila 2017

Mantan Presiden Filiphina

Mantan Presiden Filiphina – Maria Gloria Macaraeg Macapagal Arroyo

Oleh: Ahmad Syai’i Mufid/FKUB DKI Jakarta

Ketika FKUB Provinsi DKI Jakarta menyelenggaran Sekolah Agama-Agama dan Bina Damai, Desember 2016 Fukuda direktur Yayasan Global Peace Indonesia datang dan melihat kegiatan tersebut. Fukuda mengapresiasi SABDA. Fukuda menyatakan SABDA dapat menjadi model dunia untuk membangun perdamaian. Beliau pun menyatakan akan mengundang FKUB Provinsi DKI dalam even internasional yang akan diselenggaran tahun depan. Bagai ungkapan “bak dipucuk ulampun tiba” kerja yang diapresiasi saja bagi FKUB sudah senang, apa lagi diberikan penghargaan, undangan berpartisipasi dalam konvensi internasional global peace.

Global peace connvention 2017 adalah perhelatan besar. Ribuan anak muda, perempuan, pebisnis dan tokoh-tokoh agama terlibat dalam kegiatan tersebut. Semua menginginkan terwujudnya perdamaian dunia. Semboyannya One Family under God, dijabarkan dalam bentuk; interfaith cooperation, family as school of love dan building culture of service. Kerjasama antariman, keluarga adalah sebagai sekolah cinta dan membangun budaya melayani. Tiga pilar perdamaian global tersebut dibahas dalam konvrnsi selama 4 hari.

Untuk kaum muda diisi materi dan motivasi bagaimana menjadi entrepreneur dan pimimpin yang inovatif. Bagaimana pendidikan bersifat transfirmatif juga merupakan isu besar yang dibahas pada konvensi untuk kalangan muda?  Para pebisnis didorong bagaimana agar dunia perdagangan peka terhadap masa depan umat manusia. Bisnis yang beretika, tidak merusak alam dan kemanusiaan.

Delegasi dari FKUB Provinsi DKI Jakarta, Pdt. Manuael Raintung, H. Taufiq Rahman dan KH. Ahmad Syafii Mufid (fkub/budi)

Delegasi dari FKUB Provinsi DKI Jakarta, Pdt. Manuael Raintung, H. Taufiq Rahman dan KH. Ahmad Syafii Mufid (fkub/budi)

Tentu yang paling menarik dalam Global Peace Convention 2017 adalah interfaith peacebuilding. Utusan FKUB menjadi peserta interfaith conversation. Mengikuti perbincangan mulai dari pembukaan hingga penutupan. Sambutan presiden Global Peace Foundation ( GPF), Dr. Moon dan juga mantan presiden Pilipina, Maria Gloria Macaraeg Macapagal Arroyo menunjukkan eksistensi dan visi perdamaian dunia yang luar biasa. Diskusi atas paparan nara sumber dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, India, Irlandia dan Nigeria. Pengalaman bina damai menunjukkan keberhasilannya. Irlandia berdamai setelah terlibat perang betahun-tahun demikian pula Nigeria. Rencana selanjutnya GPF akan bekerja untuk perdamaian dunia. Perdamaian abadi India Pakistan serta satu Korea adalah obsesi GPF.

Banyak hal yang bisa diambil pelajaran oleh FKUB Provinsi DKI Jakarta dari konvensi ini. Penyelenggaran even besar ini nyaris sempurna. Tidak ada kejadian yang di luar rencana. Jumlah peserta hingga 1500 orang dari 42 negara dapat dilayani dengan baik. Panitia yang ramah, pembicara kelas dunia dan fasilitas konsumsi dan akomodasi menambah bobot pertemuan ini. Komunikasi dan kerjasama adakah kunci utama even ini.

PESAN NATAL BERSAMA

download

“Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat, Yaitu Kristus, Tuhan di Kota Daud” (Lukas 2:11)

Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Salam sejahtera dalam kasih Kristus.

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi.
Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun. Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,

Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, “aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).
Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut. Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan “jangan takut” (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,

Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.
Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.

SELAMAT NATAL 2016 DAN TAHUN BARU 2017

Jakarta, 10 November 2016

Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang

(Ketua Umum)

 

Pdt. Gomar Gultom

(Sekretaris Umum)

Mgr. Ignatius Suharyo

 (Ketua)

Mgr. Antonius Subianto B

(Sekretaris Jendral)

 

Al Futuhat al Madinah

Oleh: Ahmad Syafi’Mufid

Al Futuhat al Madinah adalah topik imajinasi penulis atas keterbukaan pemahan arti penting eksistensi Madinah. Selama ini pemahamanku tentang Madinah terputus, tidak nyambung dengan Mekkah. Padahal keduanya adalah poros awal dan akhir, poros hamba dan khalifah dalam Islam. Madinah yang saya pahami sebelumnya adalah sebuah kota dari proses dakwah, dan bukan bagian proses kontinuitas kehidupan alam dunia. Madinah tidak saya pahami secara utuh dalam kerangka kehidupan umat manusia yang terikat dengan ruang dan waktu. Didahului renungan atas makna Kaabah dan haji yang sebelumnya telah saya tulis di fb ini. Pemaknaan ini memperoleh inspirasi dari Futuuhat al Makiyah.

Siapa tidak mengenal buku utama Ibnu Arabi “Futuhaat al Makiyah” yang sangat dalam membahas hakikat hubungan manusia dengan Allah. Manusia adalah salah satu emanasi Tuhan yang paling utama, di samping alam semesta sebagai bukti eksistensi-Nya. Siapa manusia dan untuk apa diciptakan? Kitab “Sajaratul Kaun” karya Ibnu Arabi, mengawali pembahasan dengan menyebut hadist Qudsi bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengenali-Nya melalui fungsi penghambaan dan kekhalifahan. Dari sinilah kita mengenal siapa manusia dan untuk apa dia diciptakan. Manusia sejarah dimulai dari Mekkah dan kesempurnaannya ada di Madinah ( Adam-Muhammad).

Penghambaan manusia sejak Adam hingga Nabi Ibrahim dirangkum dalam ibadah haji. Thowaf, sa’i, wukuf, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah, ifadhah, penyembelihan kurban serta tahalul. Semua ibadat itu berada di Mekkah yang disebut haji. Umat Islam setelah ibadah haji, ziarah ke Madinah.  Ziarah ke makam Muhammad saw. Sebagai penutup para nabi, Muhammad saw adalah satu-satunya nabi yang menyaksikan keberhasilan dakwah.

Skenario ilahiyah, dakwah model Mekkah yang sangat mendasar dilanjutkan di Madinah penting untuk dilihat dan diapresiasi umat manusia. Ada keyakinan yang teruji setelah penghinaan, penindasan, embargo ekonomi terhadap Sang Nabi dan teman-temannya. Modal tauhid dan akhlak menjadi ruh umat Muhammad saw menentukan semua pandangan, sikap dan perbuatan. Hijrah ke Madinah merupakan kreasi ketuhanan yang sukses untuk membangun tatanan keagamaan, kemanusiaan dan peradaban.

Madinah yang sering dimaknai; kota atau peradaban juga berarti tempat hukum-hukum agama dilaksanakan (dien). Peradaban dan agama menjadi satu kesatuan. Agama adalah ruh kehidupan, jasad dan fisiknya adalah peradaban. Dunia adalah tempat menanam, sedang hasilnya, kenikmatan akhirat. Konsepsi dan aplikasi filosofi kehidupan yang berdasar wahyu Allah hanya ada di Madinah al Munawarah. Wahyu dan implementasinya dlm masyarat Madinah dinyatakan telah paripurna oleh Allah sendiri setelah khutbah Wada’ di Arofah (Mekkah). Ketika Rasul wafat, Madinah dipimpin oleh khalifah. Cahaya Madinah menerangi dunia, peradaban dalam bimbingan wahyu membuat umat manusia sejahtera, adil dan beradab. Sejak muncul huru hara politik, Madinah ditinggalkan dan agama digantikan peradaban sekuler. Khalifah berubah menjadi amir, sultan, malik dan presiden.

Apa artinya semua ini? Madinah adalah penanda akhir masa kenabian. Puncak kesempurnaan agama, dan setelah mencapai puncak maka geraknya menuju ke bawah. Kehancuran agama memang bagian dari rencana Allah untuk menutup alam semesta yang terbuka. Setelah Madinah al Munawarah, tiada lagi kota yang diterangi oleh wahyu yang dipimpin oleh seorang nabi. Mekkah adalah awal peradaban dan Madinah adalah akhir. Adam as adalah nabi pertama, sedangkan Muhammad adalah nabi akhir zaman. Huwa al awwalu wal akhir, la ilaaha illallah. Allahu akbar!

Belajar memaknai Mekkah dan Madinah adalah bagian dari mengenali (makrifat) Allah. Semoga catatan perjalanan haji yang ketiga ini menguatkan diri sebagai hamba Allah yang muttaqin dan khalifatullah yang muhlasin.

Madinah, 21 September 2016.

Kerukunan Menurut Perspektif Agama Khonghucu

Js. Liem Liliany Lontoh - Ketua Matakin Provinsi DKI Jakarta

Js. Liem Liliany Lontoh – Ketua Matakin Provinsi DKI Jakarta

Oleh: Js. Liem Liliany Lontoh

Ketua Matakin Provinsi DKI Jakarta

Banyak yang tidak mengetahui kalau ajaran Khonghucu itu sangat luas, meliputi : agama, filsafat, etika, psikologi, antropologi, sosiologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Kepada salah seorang murid, Nabi Kongzi memberitahu bahwa Jalan SuciNya hanya satu tapi menembusi semuanya. Pokok Ajaran agama Khonghucu adalah Satya dan Tepasalira, yakni : Satya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan Firman yang diemban kepada kita dalam kehidupan ini, menegakkan dan menggemilangkan Kebajikan dan Tenggang Rasa, artinya mencintai terhadap sesama manusia, sesama makhluk dan lingkungan hidupnya. Ajaran Kongzi universal, tidak terbatas pada satu bangsa atau satu negara tertentu tapi bagi semua orang dan segala jaman sebagaimana telah dinyatakan oleh banyak orang yang sudah mempelajarinya dengan seksama.“Di empat penjuru lautan semuanya saudara” (Lun Yu XII:5) mengandung seruan atau ajakan kepada semua orang, semua bangsa-bangsa dimuka bumi ini agar berusaha mencapai kerukunan nasional dan keseduniaan. Ajaran Nabi Kongzi mengutamakan kerukunan. UjaranNya yang lain :”Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.” Disini tersirat, bila diri sendiri ingin tegak/maju, bantulah orang lain agar tegak / maju.

Nabi Kongzi  ingin mewujudkan suatu masyarakat yang penuh kerukunan, kebahagiaan dan kemakmuran, yang dimulai dengan membina diri, mendidik diri sendiri menempuh Jalan Suci atau Jalan Kebenaran agar menjadi seorang Junzi, manusia yang berbudi luhur, manusia yang memanusiakan dirinya sendiri dan orang lain, cinta kepada sesamanya, kepada bangsa dan negaranya. Adanya bermacam-macam perbedaan pandangan hidup diantara berbagai bangsa dan masyarakat itulah menandakan kebesaran Tuhan. Kerukunan hidup beragama sebenarnya sesuai hakekat manusia yang seharusnya hidup harmonis, baik sebagai pribadi maupun kelompok masyarakat, bangsa dan negara. Kerukunan hidup khususnya hidup beragama adalah syarat mutlak agar manusia dapat hidup tentram dan damai.

Keyakinan Konfuciani menempatkan iman kepada Tuhan sebagai akar dan landasan dalam belajar, mawas diri dan membina diri membangun rumah tangga, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bahkan dunia. Pemantapan kehidupan keimanan ini wajib senantiasa menjiwai segala upaya di dalam membina dan membangun kehidupan beragama. “Seorang Junzi memuliakan tiga hal : memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, memuliakan orang-orang besar (Para Suci) dan memuliakan Sabda Para Nabi”. (Lun Yu XVI :8).  Ternyata biar Nabi Purba maupun Nabi kemudian, haluannya serupa” (Mengzi IV B : 1 ). Dari ungkapan ini jelaslah pandangan ajaran Kongzi yang universal, yang menghormati dan menjunjung tinggi ajaran agama lainnya, sebagaimana juga orientasi ajaran agama Khonghucu mengarah pada perdamaian dunia.

Ajaran Nabi Kongzi mewajibkan umatnya untuk berperi Cinta Kasih, menjunjung tinggi Kebenaran / keadilan / kewajiban, berperilaku Susila, bertindak Bijaksana dan Dapat Dipercaya. Dengan demikian semua insan yang berakal budi akan dapat menerimanya sebagai hal yang baik untuk penghidupan ini karena ajaran ini untuk semua umat manusia.  “Seorang Junzi dapat rukun meski tidak dapat sama, seorang rendah budi dapat sama meskipun tidak dapat rukun”

Menurut Nabi Kongzi , seorang Junzi (luhur budi) nama itu harus sesuai dengan yang diucapkan dan kata-kata harus sesuai dengan perbuatannya. “Jangan hanya namanya bersatu tapi perbuatannya tidak bersatu. Bila ingin hidup dalam persatuan maka didalam perbuatan wujudkanlah persatuan itu. Disini jelas bahwa persatuan yang harmonis itulah yang didambakan mulai dari keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jikalau keluarga rukun, masyarakat akan rukun dan bila masyarakat rukun maka negara dan bangsa akan rukun.

Nabi Kongzi mengajarkan Lima Hubungan Kemasyarakatan : Hubungan antara Raja (Kepala Negara) dengan menteri, orang tua dengan anak, suami dengan istri, kakak dengan adik dan teman dengan sahabat. “Lima Hubungan Kemasyarakatan itu mencakup hubungan manusia secara vertikal dan horisontal dan sebagai hubungan yang manusiawi dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kulminasi Ajaran Nabi Kongzi yang menuju ke kerukunan terlihat pada jawaban Nabi Kongzi kepada Pangeran King dari Negeri Cee atas pertanyaan tentang pemerintahan yang baik : Raja adalah Raja, Menteri adalah Menteri, Ayah adalah Ayah, Anak adalah Anak.” “Bila Raja berdiri diatas kepercayaan sebagai rajabarulah menteri menduduki kewajaran sebagai menteri. Bila ayah (orang tua) menepati kewajiban sebagai orang tua sejatibarulah anak menginsyafi bakti anak sejati. Bila para pembesar menyadari hubungan-hubungan antar manusia ini, niscaya rakyat jelatayang dibawahnya akan saling mencinta. Tanpa kerukunan keluarga, masyarakat tidak akan rukun, bila masyarakat tidak rukun, maka negara tidak akan rukun dan persatuan bangsa tidak mungkin tercapai. Perdamaian dunia terancam bila bangsa-bangsa di dunia tidak rukun.

Pancasila Sebagai Landasan Kerukunan Umat Beragama

PRof. Dr. KH. Ahmad Syafii Mufid -Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

PRof. Dr. KH. Ahmad Syafii Mufid -Ketua FKUB Provinsi DKI Jakarta

Oleh: Prof. DR. KH. Ahmad Syafii Mufid

Pancasila yang kita maksud dalam topik di atas adalah Pancasila sebagai dasar negara yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Bukan Pancasila sebagaimana dalam rumusan Piagam Jakarta atau Pancasila yang dipidatokan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Kalau saja proklamasi kemerdekaan jadi dilakukan pada rapat PPKI yang sedianya diselenggarakan pada tanggal 16 Agustus 1945, maka sila pertamanya akan berbunyi: ” Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Bung Hatta memiliki peran sentral dalam pencoretan tujuh kata yang amat terkenal itu. Maksud pencoretan itu sendiri adalah meniadakan diskriminasi dan demi Indonesia, Sabang Merauke. Pencoretan itu juga merupakan dasar utama kerukunan umat beragama.

Toleransi tidak bisa hanya diajarkan, tetapi harus dialami dan dirasakan. Kita tidak mungkin mengalami peristiwa 18 Agustus 1945, tetapi kita dapat merasakan. Bagaimana perasaan Hatta menerima telpon dari Mayjen Nishijima, pembantu Admiral Maeda bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik di wilayah yg dikuasai angkatan laut Jepang berkeberatan dengan tujuh kata dalam pembukaan UUD 1945. Bagaimana kita bisa merasakan ketika Bung Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr.Kasman Singodimejo dan Tengku Muhammad Hasan untuk membicarakan masalah ini dan akhirnya menyetujui pencoretan tujuh kata tersebut dan menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sungguh, kehidupan religius dengan kerelaan menerima keragaman ada dalam benak penduduk nusantara sejak era Majapahit yang formulasikan oleh Empu Tantular dalam Sutasoma ” Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa”. Berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran yang mendua.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi dasar kedua bagi kerukunan umat beragama. Nusantara sebagai mana dikatakan oleh Lombard, adalah tempat bertemunya semua kebudayaan besar dunia seperti Indianisasi Nusantara, Islam, Cina dan Barat. Oleh karena itu Sukarno menyatakan ” nasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak dalam taman sari internasionalisme. Atau seperti dikatakan oleh Ghandi “saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. Dunia yang semakin terbuka (globalisme) tidak mungkin lagi mempertahankan homoginitas primordial, termasuk agama. Keadilan dan keadaban mesti menjadi pilar utama pergaulan antarumat dan dengan demikian perbedaan agama dengan segala manifestasinya mesti diterima secara terbuka. Penerimaan perbedaan primordialisme ini oleh para ulama NU dirumuskan dalam adagium “ukhuwah” wathaniah (kebangsaan) dan kemanusiaan (basariyah) setelah selesai dengan toleransi terhadap perbedaan paham keagamaan internal (islamiyah). Pandangan hidup seperti inilah yang pada tanggal 28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda dan pada tanggal 18 Agustus 1945 menerima Pancasila sebagai dasar negara. Selanjutnya pada tahun 1984 NU dan Muhammadiyah juga diikuti oleh ormas lainnya meneguhkan kembali komitmen kebangsaan melalui penerimaan asas tunggal Pancasila melalui musyawarah mufakat.

Sayang, pasca amandemen UUD 1945 prinsip musyawarah mufakat semakin ditinggalkan dalam pengambilan keputusan politik. Musyawarah mufakat diganti dengan pemungutan suara (voting). Pemimpin bangsa ditentukan oleh popularitas bukan oleh kualitas. Keterpilihan berkaitan dengan kertas suara dan uang kertas yang diterima. Syukurlah untuk persoalan kerukunan umat beragama, mulai dari praktik bina damai hingga rekomendasi pendirian rumah ibadat, sebagaimana diperankan oleh FKUB, voting diharamkan. Musyawarah mufakat sebagaimana sila keempat Pancasila masih menjadi dasar pengambilan keputusan.

Dinamika kerukunan yang terus berlanjut yang melibatkan komunitas agama-agama di Indonesia tidak bisa diserderhanakan dengan satu kata “intoleransi”. Bagaimana peristiwa Tolikara, Singkil, dan Tanjung Balai bisa terjadi? Apakah peristiwa itu disebabkan oleh ajaran agama atau intoleransi umat beragama atau karena perasaan tertekan, ketidakadilan dan kesejahteraan.

Jakarta, 21 Agustus 2016

Amok Massa Tanjung Balai

Gara-gara terganggu suara adzan, perempuan warga keturunan marah-marah dan melabrak imam masjid Al Maksum Tanjung Balai. Massa pun tersinggung oleh sikap perempuan itu dan peristiwa amok massa terjadi sebagaimana diberitakan oleh berbagai media. Seperti biasa, setelah terjadi peristiwa berbau SARA barbagai organisasi sosial termasuk LSM memberikan pernyataan yang isinya mengutuk kejadian tersebut. Para pengamat pun sibuk memberikan penilaian dan uraian macam-macam dan setelah itu masyarakat kembali tenang.

Peristiwa yang mirip kasus Tanjung Balai telah terjadi banyak sekali, tak terhitung jumlah sepanjang Indonesia merdeka. Kerusuhan yang katanya berlatar belakang suku, agama, ras dan golongan juga sudah banyak diteliti, baik di masa kolonial, pasca kemerdekaan, masa orde baru dan masa kebebasan seperti peristiwa Ambon, Poso, Sambas, Sampit dan tempat-tempat lainnya. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan sebab-sebab kerusuhan dan merekomendasikan apa yang harus dilakukan. Apa yang salah dengan temuan dan rekomendasi penelitian? Kasus yang sama terus berulang, mengapa?

Kita tidak sekedar membuat pernyataan dan kutukan terhadap pelaku kerusuhan, tetapi juga berusaha dan berdoa semoga tidak ada lagi kerusuhan sosial di negeri tercinta. Kita juga tidak ikut latah menunjuk penyebab kejadian tersebut dan menyebut sebab tunggal, masalah agama misalnya. Ada banyak faktor penyebab. Biasanya primordialisme dituduh sebagai penyebab, padahal banyak penelitian menunjukkan penyebab kerusuhan sosial sesungguhnya adalah wujudnya dominasi baik verbal maupun simbolik suatu kelompok terhadap kelompok yang lain dalam masyarakat. Pengaktifan simbol-simbol dan intentitas kelompok tertentu dalam ruang publik juga selalu menyinggung perasaan kelompok lainnya. Dalam relasi sosial yang tidak harmonis dan asimetris semacam inilah yang menjadi akar masalah sosial yang sesungguhnya di Indonesia sepanjang masa.

Mengapa sebagian dari kita masih saja arogan dan merasa benar dengan sepak terjang yang menyakitkan kelompok lain terutama kaum miskin dan marginal? Anggapan adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada kepentingan elit ketimbang kepedulian terhadap mereka yang miskin seperti penggusuran tempat tinggal dan tempat usaha tanpa ganti, menimbulkan kebencian dan dendam. Ketidakadilan bagi orang kecil, dan keberpihakan kepada mereka yang memiliki modal, membuat hati masyarakat bawah semakin pilu. Kepada siapa nasib ini harus diadukan dan siapa yang peduli. Kesulitan hidup dan kekesalan perasaan inilah yang akhirnya ditumpahruahkan kepada siapa-siapa yang menurut prasangka mereka diuntungkan dalam kondisi sosial yang demikian. Kelompok yang paling dianggap lemah pasti menjadi sasaran pertama, sedangkan sasaran akhir sesungguhnya kemarahan itu ditujukan kepada para pemegang kekuasaan.

Peristiwa Tanjungbalai mengingatkan kita kepada peristiwa yang sama sekitar 1996-1998. Kerusuhan sosial terjadi di mana-mana termasuk yang terjadi di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Ada apa dengan Vihara dan orang Tionghoa di wilayah kecil itu? Mengapa terjadi amok dan vihara serta orang Tionghoa menjadi korban? Padahal hubungan antarwarga pendatang dan penduduk asli telah terjalin lama. Di Rengssdengklok stratifikasi sosial ekonomi juga tidak jauh jaraknya antara penduduk asli dan pendatang. Mereka juga hidup sebagai petani dan pedagang.

Ternyata konflik sosial pada masa akhir orde baru itu berkembang menjadi konflik politik dengan tumbangnya sebuah rezim yang dibangun dengan susah payah selama tiga dasawarsa. Jadi persoalan kerusuhan sosial bukan semata-mata masalah toleransi beragama tetapi masalah psikologi sosial yang berkembang dari perasaan keadilan dan kesejahteraan yang masih jauh dari harapan. Kita menyesal atas kejadian Tanjung Balai dan kita akan lebih menyesal bila kejadian tersebut terulang.
Jangan salahkan agama dan orang beragama. Kerakusan harus diatur dan dibatasi, keadilan harus ditegakkan kepada siapa saja yang melanggar hukum, peraturan dan kesepakatan sosial.

Bekasi, 31 Juli 2016
Ahmad Syafi’i Mufid

 

1 2 3 4